26 December 2017

Macet di Malang tanpa solusi

Malang tidak lagi asyik untuk berwisata. Selain suhu udara yang tidak sesejuk tahun 1990an, jalan rayanya makin macet. Mulai dari Pasar Lawang hingga masuk wilayah Kota Malang.

Yang paling parah Lawang sampai Karangploso. Mobil dan motor dari arah Surabaya seperti masuk perangkap. Bergerak pelan-pelan kayak siput. Masih lebih cepat pejalan kaki di trotoar.

Polisi, seperti dikutip Malang Pos, menyebut kendaraan mencapai 15 ribu unit per jam. Itu karena banyaknya warga dari Surabaya dan sekitarnya yang berekreasi di Malang Raya. "Apalagi libur Natal dan tahun baru ini bersaman dengan liburan anak sekolah," kata Kasatlantas Polres Malang AKP Probandono.

Kalau saya amati, kemacetan di Malang ini sebetulnya tidak hanya karena libur akhir tahun atau Idulfitri. Setiap hari pun macet. Dan titik-titik rawan kemacetan bisa dilihat dengan mudah. Dan penyebab kemacetan pun gampang diidentifikasi. Tidak perlu jadi ahli untuk menganalisis kemacetan lalu lintas di Malang Raya.

Setahu saya, ruas jalan raya utama sejak 30 tahun lalu sampai sekarang sama saja. Tidak ada pelebaran. Yang sedikit beda adalah pembangunan jembatan layang atau flyover di dekat Terminal Arjosari. Lain-lainnya sami mawon.

Di pihak lain, seperti juga di kota-kota lain, pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi luar biasa. Kita makin sulit menyeberang di Malang. Jangankan di jalan protokol Surabaya-Malang, jalan-jalan kecil kayak Kahuripan menuju Alun-Alun Bunder pun super padat. Anda dijamin sulit menyeberang di kawasan alun-alun di depan balai kota itu.

Lalu, apa solusinya? Pemkot Malang sepertinya tidak berbuat banyak. Mungkin karena jalan utama itu tergolong jalan nasional atau jalan provinsi. Tapi kalau tidak ada action, ya situasinya akan semakin parah.

Pemkot Malang mestinya bisa meniru Surabaya yang ngotot membuat jalan pendamping atau frontage road. Padahal Surabaya itu sebetulnya tidak macet parah. Titik kepadatan hanya di Jalan Ahmad Yani dari bundaran Waru karena kendaraan-kendaraan yang datang dari Sidoarjo. Nah, titik macet di Ahmad Yani yang tidak seberapa jauh itu kini sudah sembuh berkat FR itu.

Bandingkan dengan Malang Raya yang macetnya dari Lawang sampai Blimbing. Itu benar-benar parah. Tapi kelihatannya pemkot adem ayem saja. Yang ramai justru orang Surabaya yang sering cuap-cuap di radio. Curhat soal kemacetan di Malang yang tanpa solusi itu.

Abah Anton, wali kota, tentu sudah punya jurus-jurus jitu. Selain minta tolong Tuhan yang mahakuasa tentu saja.

Pantai Sendang Biru dengan Homestay Selangit

Salah satu objek wisata yang mulai naik daun di Kabupaten Malang adalah pantai Sendang Biru di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Pantainya unik, airnya tenang, meskipun terletak di Segoro Kidul alias Laut Selatan yang terkenal ganas. Posisi Sendang Biru, Goa Cina, dan beberapa destinasi wisata lain kebetulan agak menjorok masuk di teluk.

Dibandingkan wisata pantai di Jember, apalagi Kuta dan Sanur di Bali, masih jauh lah. Sendang Biru (sekitar 60 km dari Malang) masih sederhana. Belum dikemas bagus kayak Kuta. Yang ada cuma perahu-perahu nelayan saja. Pengunjung tidak bisa main-main di pasir karena memang tidak ada pasirnya.

Mandi atau berenang? Kelihatannya tidak dianjurkan. Sebab, bagaimanapun juga ini segoro kidul. Airnya tenang tapi dalam. Hanya nelayan setempat yang saya lihat bermain-main di air.

Para pengunjung cuma menghabiskan waktu di warung-warung yang cukup banyak. Pohon-pohon yang rindang dan besar-besar bikin kerasan. Duduk di pantai serasa di pinggir danau tengah hutan saja. Ini juga kelebihan Sendang Biru dibandingkan objek wisata pantai yang lain. Apalagi pesisir pantai Sidoarjo yang panas karena cuma ada pohon-pohon bakau yang tidak tinggi.

Bagaimana dengan penginapan? Tidak ada hotel memang di desa yang umat kristennya cukup banyak itu (ada GKJW yang bagus). Tapi jangan khawatir. Warga Sendang Biru ternyata sangat sadar wisata. Lebih tepat: sadar uang!

Kamar-kamar rumah warga disewakan. Jadi homestay. Mereka juga manfaatkan situs online macam Travelola untuk promosi kamar. Homestay ini tentu sangat membantu pengunjung yang ingin bermalam. Tidak perlu balik ke Malang yang makan waktu lama. Apalagi harus lewat di jalan desa yang gelap gulita di tengah hutan.

Saya iseng-iseng survei tarif homestay di Sendang Biru. Wow... selangit harganya. Ada yang minta Rp 300 ribu, 350, bahkan 400. Saya juga mampir di rumah orang Kristen yang ada pohon natalnya.

Berapa tarif kamar? Bapak yang ramah itu berunding dengan istrinya. Agak lama. Lalu keluar angka 200 ribu. Tarif yang paling murah ketimbang lima rumah lainnya. Padahal, ya, rumah biasa. Tidak ada fasilitas layaknya hotel, selain AC.

Rupanya konsep homestay sudah berubah total di Desa Sendangbiru itu. Aslinya homestay itu numpang nginap di rumah orang. Biayanya pasti lebih murah ketimbang hotel. Suasana rumah, home, yang jadi kelebihan homestay (yang otentik).

Dulu rumah saya di pelosok NTT juga sering diinapi turis Eropa, Jawa, atau tamu dari mana saja. Tidak bayar alias gratis.

Homestay yang asli juga ditemukan di tempat-tempat ziarah Katolik seperti Gua Maria Lourdes, Sendangsono, Kulonprogo, Jogjakarta. Saya beberapa kali homestay di rumah Pak Warno dekat Gua Maria yang terkenal itu. Gratis. Tapi biasanya tamu macam saya menitipi sedikit duit saat pamitan.

Maka, homestay di Sendang Biru ini saya anggap aneh. Masak, harganya lebih mahal daripada hotel di Malang! Masih banyak hotel bagus di Malang yang pasang tarif di bawah 200 ribu. Hotel bintang pun ada yang 300an di luar peak season.

Penginapan untuk backpacker di Malang sekitar Rp 70-80 ribu per malam. Dengan fasilitas yang lebih bagus ketimbang homestay di pantai Malang Selatan itu.

Sambil menyeruput kopi buatan pabrik di Taman Sidoarjo, saya merenungkan perilaku orang desa yang komersial abis alias mata duitan. Menguangkan kamarnya dengan harga yang tidak patut. Lebih mahal ketimbang hotel-hotel di Kota Malang.

Kehangatan dan keramahtamahan orang desa sepertinya tinggal cerita zaman old. Di zaman now... uang adalah segalanya.

Pesan Natal Romo Stanis: Jadilah Palungan!

Malam Natal yang cerah. Romo Stanis Beda CM, dengan logat Flores Timur yang kental, bicara tentang palungan. Gaya homili pater ini memang dialogis. Suka tanya jawab macam guru di kelas.

"Palungan itu apa? Ada yang tahu? Silakan jawab."

Tidak ada jemaat yang acungkan tangan. Bukan karena tidak tahu palungan, tapi agak aneh aja. Beda kalau tanya jawab di kelas atau seminar. "Ayo... palungan itu apa? Palungan lho, bukan pasungan!!!"

Akhirnya, pater kongregasi misi ini menjawab sendiri. Dengan deskripsi yang agak detail. Tentang tempat makanan ternak, sapi kambing dsb... di kandang. Makanan dan minuman untuk ternak ditaruh di palungan itu. Lalu hewan ternak ramai-ramai makan.

"Bayangkan saudara-saudara... Yesus lahir di palungan," ujar pater yang homilinya selalu menggelitik dan bikin ketawa itu. Ada kalanya juga sindiran keras, humor pahit.

Kisah kelahiran Yesus di kandang binatang, palungan, Maria dan Yosef, gembala-gembala sudah sangat umum. Tertulis di Injil bagian awal. Tapi Pater Stanis mampu menggoreng lagi berita kelahiran sang penebus ini menjadi sajian yang lezat.

Palungan sederhana itu bahkan punya makna yang sangat dalam. Bisa merembet ke mana-mana. Mulai soal rumah tangga, suami istri anak, masyarakat dsb.

"Kita sering lupa palungan karena terpukau dengan pohon Natal. Tidak ada itu Yesus lahir di atas pohon," ujar pater berkacamata ini disambut tawa umat.

Selamat Natal!

19 December 2017

Konser Natal SSO 2017 yang Sederhana

Konser Natal Surabaya Symphony Orchestra (SSO) 2017 malam ini tidak segebyar tahun-tahun sebelumnya. Tidak digelar di hotel berbintang (biasanya Shangri-La), tapi di auditorium SSO Jalan Manyar Rejo I/4 Surabaya. Kapasitasnya tidak sampai 200 tempat duduk.

Mengapa SSO berubah? Bukankah Solomon Tong sejak mengibarkan bendera SSO pada Desember 1996 hanya mau bikin konser besar di hotel berbintang? Penggemar SSO pun sekitar seribu sampai 2.000 orang? Ada apa dengan SSO?

Siang tadi saya mampir ke markas SSO. Sayang, tidak ada Pak Tong di kantor. Pun tidak terlihat kesibukan layaknya persiapan konser di Shangrila. Mbak Mimin, staf SSO, hanya bertugas rutin. Sibuk menjawab panggilan telepon.

Mengapa tidak konser di Shangrila? ''Kondisi Pak Tong kurang memungkinkan. Lagi pemulihan,'' ujar wanita asal Sidoarjo itu.

Solomon Tong alias Tong Tjong An, kelahiran Xiamen, Tiongkok, 20 Oktober 1939, memang sudah sepuh. Meskipun rajin olahraga, makan bergizi, plus jamu-jamu chungkuo, usia yang mendekati 80 memang ikut mempengaruhi irama tubuhnya. Tidak segesit dulu.

''Anaknya yang di Jakarta minta Pak Tong untuk tidak terlalu capek. Banyak istirahat,'' kata Mimin yang kelihatan makin serius dan tegas itu. Padahal dulu Mimin senang guyon dan tertawa. Hehehe...

Kalau kondisinya seperti itu, apakah Pak Tong masih memimpin orkestra? Jadi dirigen? ''Iya lah...,'' jawaban Mimik terkesan kurang meyakinkan.

Saya pun beranjak ke auditorium. Panggungnya kecil saja. Tidak mungkin untuk full orchestra dan paduan suara besar. Ini lebih cocok untuk konser kecil-kecilan. Bukan khas Christmas Concert ala SSO sejak 1996.

Bintang tamunya siapa? Mimin tidak menjawab karena sibuk ngomong di telepon. Biasanya SSO mendatangkan bintang tamu dari Tiongkok atau Eropa. Kadang musisi Indonesia yang tinggal di Eropa.

Saya lihat program konser bertajuk Emmanuel di samping meja resepsionis. Memang tidak ada nama-nama artis seperti biasanya. Bahkan nama Pauline Poegoeh soprano andalan SSO pun tidak tertulis.

Semoga konser di ujung tahun 2017 ini lancar dan sukses.

16 December 2017

Kapan sepak bola Sidoarjo naik kelas?

Musim ini Deltras belum beruntung. Klub bola Sidoarjo itu gagal promosi ke Liga 2. Harus terhenti di 16 besar oleh Persik Kendal. Padahal materi pemain Deltras cukup bagus. Apalagi Wimba Sutan, kapten dan top scorer yang kelasnya Liga 2 atau Liga 1.

Yang sudah pasti promosi ke Liga 2 musim depan adalah Blitar United dan Persik Kendal. Ini juga menunjukkan bahwa Kendal bukan tim kacangan. Deltras disikat di babak 16 besar dengan skor meyakinkan 3-1.

Nah, yang menarik, Blitar United sukses berkat sentuhan tangan dingin pelatih Gatot Mulbajadi asli Sidoarjo. Gatot sejak di zona Jatim sudah menunjukkan kelasnya sebagai coach yang bisa membentuk Blitar United sebagai the winning team. Menangan. Konsistensi ini diperlihatkan di putaran nasional yang berlangsung di Kendal Jateng.

Sebelumnya Persebaya juga sukses promosi ke Liga 1. Kaptennya Rendi asli Sidoarjo juga. Beberapa pemain kunci pun berasal dari kota petis dan udang itu.

Mengapa Sidoarjo sendiri, Deltras dan Persida, malah gagal? Persida yang kemarin bermain di Liga 2 harus degradasi ke Liga 3. Gabung Deltras yang sama-sama satu kota, satu stadion. 

Riyadh Ahmad, tokoh bola Sidoarjo, yang sekarang jadi ketua PSSI Jatim, bersama semua insan sepak bola di Kabupaten Sidoarjo perlu ngopi bareng. Cari solusi terbaik untuk memajukan sepak bola. Sebab egoisme pengurus dan klub-klub di Sidoarjo terlalu tinggi. 

Kita punya banyak klub tapi levelnya masih sangat rendah. Ada Persida, Deltras, Sinar Harapan... dan 80an klub-klub internal. Mestinya dibentuk satu tim yang benar-benar kuat seperti Persebaya di Surabaya. 

Suporter bola di Surabaya hanya mendukung Persebaya. Bukan yang lain. Itu yang membuat Bhayangkara United pindah dari Surabaya ke Bekasi karena tidak punya penonton dan suporter setia. Padahal Bhayangkara tim kuat yang tahun ini jadi juara Liga 1.

Mas Riyadh dan kawan-kawan sempat bikin sarasehan bola di pendapa kabupaten. Pak Bupati, KONI, insan bola, perwakilan klub hadir. Tapi tidak ada solusi. Apalagi kalau sudah masuk ke pembentukan sebuah tim super untuk Sidoarjo. Pasti panas.

''Biarkan saja situasinya berjalan seperti saat ini,'' ujar seorang pengamat dan pentolan suporter. 

Yah... mudah-mudahan saja tahun depan Deltras atau Persida atau Sinar Harapan bisa naik kelas. Agar Gelora Delta Sidoarjo, salah satu stadion terbaik di Indonesia, bisa jadi arena pertandingan kelas nasional atau internasional. Sayang kalau stadion yang pernah dipakai untuk Piala AFF itu hanya diisi pertandingan klub-klub tingkat kecamatan alias tarkaman.

14 December 2017

Gereja Katolik Tidak Dikenal Tetangga

Barusan saya bersepeda lawas di kawasan Waru Sidoarjo. Mampir ke Wisma Tropodo melihat genangan air. Kawasan ini langganan banjir sejak dijadikan perumahan. Drainasenya buruk.

Singgah sebentar di halaman Gereja Katolik Salib Suci. Gereja ini dibangun oleh Romo Heribert Ballhorn SVD kalau tidak salah 30 tahun lalu. Pater asal Jerman itu berkarya selama 27 tahun di Paroki Salib Suci.

Beda dengan romo-romo diosesan yang biasa dimutasi setiap tiga tahun, romo-romo kongregasi alias reverendus pater (RP) bisa menggembala sebuah paroki dalam waktu sangat lama. Bisa puluhan tahun macam Pater Heribert ini.

Saya kemudian singgah di warkop milik seorang wartawan emeritus (pensiunan). Di Desa Tropodo, Kecamatan Waru, juga. Satu desa dengan Gereja Salib Suci itu.

"Dari mana Anda?" tanyanya ramah.

"Tadi mampir sejenak di gereja sebelah itu. Mau ngobrol sama romonya karena dari dulu romonya selalu ada yang dari Flores NTT, daerah asal saya."

"Gereja besar itu Katolik atau Protestan?"

"Katolik lah. Namanya aja Paroki Salib Suci."

Saya tidak cerita bahwa gereja itu digembalakan romo-romo SVD. Mengapa romo SVD pasti banyak dari Flores dsb. Sebab bapak yang muslim ini pasti bingung. SVD itu apa? Praja apa pula? Dan seterusnya.

Sambil ngopi (enak banget), saya merenung. Gereja Salib Suci sudah hampir 30 tahun. Kok penduduk satu desa tidak tahu ini gereja Katolik atau Protestan? Apa yang salah? Umat Katolik setempat kurang sosialisasi dengan warga di Desa Tropodo?

Umat yang bukan Katolik tidak mau tahu alias cuek? Toh, gereja itu tempat ibadah agama lain?

Syukurlah, di era digital ini ada Mbah Google yang punya peta akurat. Ada google maps. Sehingga orang Papua atau Flores yang berkunjung ke kawasan Bandara Juanda bisa bertanya ke Google di mana Gereja Katolik terdekat. Bisa juga Protestan, Pentakosta, Advent... atau lebih spesifik lagi Gereja Salib Suci atau Gereja Bethany.

Mengapa harus ke Google? Kalau bertanya kepada orang di pinggir jalan atau warga sekitar hotel hampir pasti tidak ada yang tahu. Walaupun lokasi gereja itu tak sampai 500 meter dari rumahnya.
Mbah Google jadi rujukan utama di jaman now karena manusia-manusia di dunia nyata makin cuek dengan sesama. Khususnya yang berbeda agama, aliran, ras, keyakinan dsb.

Manchester City Ciamik, United Membosankan

Musim ini kelihatannya milik Manchester City. Semalam tim asuhan Pep Guardiola yang pelontos itu menang lagi. Skor telak 4-0.

Kelihatannya City sangat sulit dikalahkan tim mana pun. MU juga dipermalukan di kandangnya dengan permainan menyerang, umpan-umpan akurat, dan lapar gol. Inilah yang membedakan MU ala Jose Mourinho yang mengandalkan serangan balik. Jurus klasik Jose yang dulu sangat efektif.

Sayang, RCTI semalam (tepatnya Kamis dini hari) lebih suka menyiarkan MU vs Bournemouth. Apa boleh buat, saya terpaksa nonton ini. MU cuma menang 1-0 hasil sundulan kepala (sundul ya pakai kepala, bukan bahu) Lukaku.

United malah sering terancam. Tidak kelihatan bahwa dia klub besar. Untung ada De Gea, kiper paling joss di Liga Inggris. Tanpa orang Spanyol ini rasanya MU tidak mungkin duduk di posisi kedua tabel sementara.

Sebagai penggemar Pep, sejak menyihir dunia dengan tiki-taka di Barcelona, saya ingin City tetap kencang dengan gaya permainan ciamik. Plus gol-gol indah dan banyak. Sekaligus membungkam gaya bertahan Jose yang membosankan. Mou bikin boring, begitu judul berita kemarin.

Seharusnya Pep yang pegang MU. Bukan Jose. Sebab gaya klasik MU yang rancak selama hampir 30 tahun di tangan Sir Alex paling dekat dengan Pep. Jose justru antitesis Pep. Dan itu yang terlihat ketika kedua pelatih top ini pegang Barcelona dan Real Madrid di Spanyol.

Perubahan gaya MU ini mungkin terpaksa dilakukan manajemen untuk mengangkat tim yang terpuruk setelah ditinggal Sir Alex. Sebab dua pelatih sebelumnya gagal total. Jose yang berjasa mengembalikan MU ke Liga Champions (Liga Juara-Juara kata koran-koran di Malaysia).

Tapi ya itu... ada harga yang harus dibayar sangat mahal. Permainan MU tidak enak ditonton. Membosankan. Bikin ngantuk. Apalagi kalau siaran langsung di atas pukul 00.00. Dulu mata ngantuk jadi melek begitu melihat permainan MU yang meledak-ledak.

Semoga saja City menang terus.

11 December 2017

Mesin penerjemah dianggap seksis

Mesin penerjemah di internet sering dipakai untuk membantu orang Indonesia yang tidak paham atau kalimat asing. Khususnya bahasa Inggris. Namanya juga mesin, kualitas terjemahannya tentu buruk. Tapi untuk kalimat pendek biasanya akurat.

Entah disengaja atau tidak, mesin bernama google translate itu sering membuat terjemahan yang seksis. Memojokkan perempuan. Begitu yang disampaikan Soe Tjen Marching PhD, arek Suroboyo yang kini jadi dosen di London, Inggris. Saya sendiri tidak pernah perhatikan mesin penerjemah itu.

Soe Tjen yang memang aktivis tulen itu menulis:

"How sexist can googletranslate be? Have a look at the translation below. The third person pronoun "dia" in Indonesian is gender neutral. However, googletranslate assumes certain things/positions are ascribed to males/females (the considered more important and more intellectual ones are usually those of males)."

Hehehe.... Kaget juga saya. Setelah saya iseng mengetes mesin penerjemah itu, ternyata ada benarnya. Tapi tidak semua. Ada DIA yang netral, ada yang merujuk gender. DIA CANTIK misalnya menjadi SHE bukan HE.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab membuat terjemahan yang dianggap seksis itu? Begitu pertanyaan Soe Tjen. Gak ngerti. Google yang disalahkan? Gak lah.

Sebagai mesin penelusur nomor wahid, Google tentu hanya menyimpan kata-kata atau kalimat yang dibuat pengguna. Simpanan ribuan atau jutaan kata itu kemudian dijadikan semacam pola. Kalau sebagian besar pengguna translate.google.com memberi masukan yang seksis ya Mbah Google ya manut ae.

Sistem itu juga yang dipakai di google maps dan sebagainya. Kalau pengguna memberi masukan yang akurat tentang alamat tertentu, maka hasilnya juga akurat. Sebaliknya, kalau input datanya ngawur alias iseng ya ngawur pula hasilnya.

Inilah yang dialami Pratiwi, mahasiswi dari Bandung, saat mencari situs Terung di Krian Sidoarjo. Nona manis itu begitu bergantung pada gawai. Sangat yakin bahwa google maps itu akurat. Soalnya di Bandung selalu tepat, katanya.

Apa yang terjadi? Mahasiswi ini kesasar jauh dari lokasi. Gara-gara petunjuk di google maps yang mbeleset. "Akhirnya, saya tanya ke orang-orang di pinggir jalan. Alhamdulillah, sampai juga di lokasi," katanya.

Kembali ke terjemahan DIA yang dianggap seksis itu. Suka tidak suka, budaya Indonesia masih patriarkis meski sudah masuk era digital. Mindset yang sudah berlangsung sejak zaman purba itu masih bertahan di jaman now.

PKK masih ada. Darma Wanita ada. Istri masih dianggap bertugas memasak dan membuat wedhang kopi... seperti lirik lagu dangdut koplo yang sangat populer itu. Karena istrinya tidak mau masak, tidak mau bikin kopi, suaminya mencari hiburan di luar rumah. Waduh.... waduh.....

Budaya patriarki inilah yang mungkin tidak ada lagi di Barat. Seperti yang selalu diangkat di video-video Sascha Stevenson tentang bule wanita yang kawin dengan laki-laki Indonesia itu.

10 December 2017

Giliran patung balet di Citraland diturunkan

Sudah belasan tahun patung sepasang penari balet jadi penanda kawasan Citraland Surabaya. Patung balerina itu garapan seniman top negeri ini. Cocok dengan visi Pak Ciputra sejak dulu: membangun kawasan bernuansa seni.

Selama ini ya aman-aman saja. Orang melintas di sekitar patung itu begitu saja. Tak pernah ada polemik atau kontroversi di media massa. Silakan buka arsip koran-koran lama terbitan Surabaya sejak awal 2000. Tidak ada polemik soal patung.

Polemik patung di Surabaya, yang masih saya ingat, cuma satu. Patung kerapan sapi di dekat belokan Basuki Rahmat dan Urip Sumoharjo. Patung balapan sapi khas Madura itu dianggap tidak cocok dengan spirit Kota Pahlawan.

"Mestinya dipasang patung pejuang kemerdekaan yang lebih mencerminkan semangat arek-arek Surabaya. Bukan malah ditaruh patung sapi," ujar Cak Kadar suatu ketika.

Almarhum yang dikenal sebagai budayawan senior ini mengusulkan agar patung kerapan sapi itu dipindahkan ke Madura. Polemik ini sempat ramai di media massa (belum ada media sosial). Tapi pelan-pelan hilang begitu saja. Dan sampai sekarang patung kerapan sapi masih tegar berdiri.

Begitulah. Selama bertahun-tahun para seniman dan pemerhati kota hanya konsen dengan ruang publik. Khususnya karya seni yang dibuat dengan uang rakyat alias APBD. Perumahan dianggap sebagai ranah swasta meskipun nantinya juga jadi permukiman penduduk.

Karena itu, hampir semua perumahan kelas tengah atas punya tetenger atau landmark. Ciputra yang sejak dulu ngomong kota nuansa seni pun melengkapi perumahan-perumahannya dengan seni patung dsb. Indah nian... bagi orang yang punya apresiasi seni.

Anehnya, di era media sosial yang heboh, muncul pandangan baru yang keras. Massa main geruduk. Minta agar patung yang dianggap porno atau bertentangan dengan keyakinan mereka harus diturunkan. Main ultimatum harus dibongkar dalam tempo sekian hari.

Itulah yang terjadi di Sidoarjo. Patung petani, nelayan, dan perajin hasil tambak Kota Delta diturunkan karena tekanan massa. Pakai argumentasi dan legitimasi agama. Maka patung yang masih baru itu pun diturunkan.

Dari Sidoarjo, aksi protes patung dilakukan di Tuban. Patung Dewa Kwan Kong di kompleks kelenteng diminta bongkar karena dianggap tidak sesuai dengan karakter lokal. Media sosial heboh. Sebab patung Kwan Kong ini dibandingkan dengan patung Jenderal Sudirman.

Mudah ditebak. Pihak kelenteng, orang Tionghoa, tidak mau ambil risiko. Di mana-mana minoritas itu lebih suka bermain aman... kecuali Ahok yang berani melawan arus. Akhirnya dimakan arus politik SARA juga.

Kemarin giliran Surabaya yang kena. Modusnya sama. Ada ormas ngeluruk patung balerina di Citraland yang dianggap porno. Patung itu kemudian ditutupi kain putih. Tentu saja manajemen Citraland tidak mau ambil risiko. Besoknya patung itu diturunkan.

Rasanya aksi seperti ini bakal terus ada di NKRI ini. Seiring makin kuatnya masyarakat yang berhaluan konservatif. Biasanya menjelang pemilihan umum kepala daerah, pemilihan legislatif, atau pemilihan presiden isu SARA jadi menu gorengan yang panas. Apalagi sudah terbukti berhasil di Jakarta.

Ngobrol rupiah di warung kopi

Warkop milik Bu Mualim di Rungkut Surabaya ini menarik. Di atas meja dipajang cukup banyak uang lama dan baru. Ada juga ringgit Malaysia, mata uang Portugal, USA, Spanyol, hingga Malaysia. Katanya dikasih seorang kolektor uang lama di Surabaya.

Di depan saya ada uang kertas Rp 10.000. Tiganya masih laku, satunya yang bergambar Sri Sultan Hamengkubuwono IX sudah lama ditarik. Sembari ngopi pahit, saya membayangkan masa lalu. Tahun 1992. Ketika uang Rp 10 ribu itu baru dirilis.

Wow... betapa hebatnya nilai uang 10 ribu pada awal 1990an itu. Duit segitu bisa dapat bensin 10 liter. Beli beras juga dapat banyak. Pegang uang Rp 10.00 gambar Sultan juga habisnya lama. Apalagi cuma untuk ngopi dan beli pisang goreng yang enak.

Kini, akhir 2017, uang Rp 10.000 gambar Frans Kaisiepo (emisi 2016) cuma uang receh di Indonesia. Kalau ditukar bensin cuma dapat satu liter lebih sedikit. Beras juga dapat sedikit. Rujak cingur cuma dapat kembali Rp 1.000.

Betapa hancurnya nilai rupiah. Khususnya sejak krisis moneter 1997. Nilai tukar uang kita merosot sekian ratus persen. ''Enak jaman Pak Harto. Barang-barang murah, bensin murah, sembako murah,'' ujar seorang bapak di warkop pinggir jalan itu.

Mahal dan murah itu relatif. Orang kaya sekali makan bisa habis Rp 100 ribu. Wong cilik cukup makan nasi kucing Rp 3.000. Tidak tepat juga membandingkan nominal harga hari ini dengan 20 atau 30 tahun lalu.

Yang sebenarnya terjadi itu bukan harga-harga yang naik, membubung tinggi, tapi inflasi yang parah. Nilai tukar rupiah anjlok luar biasa. Sementara penghasilan rakyat hanya naik sedikit.

Bagaimana cara membuat rupiah tidak hancur-hancuran seperti ini? Kulo mboten sumerep. Mbak Sri selaku menteri keuangan pasti paling tahu jurus-jurus silat moneter.

08 December 2017

Waduh... NTT jadi bahan ejekan


NTT kembali jadi olok-olok di tingkat nasional. Soal kemiskinan, pengirim TKI, hingga mutu pendidikan. Minggu lalu yang ngejek NTT justru menteri pendidikan sendiri.

Menteri Muhadjir tidak terima hasil survei PISA yang menempatkan Indonesia di peringkat bawah. Kualitas pendidikan kita sangat buruk. Rupanya Pak Menteri tidak terima. Dia balas mempertanyakan sampel yang dipakai PISA.

"Mungkin PISA pakai sampel di NTT. Kalau sampelnya di Jawa hasilnya pasti tidak seperti itu," kata menteri dari Muhammadiyah itu.

Sebagai perantau asal NTT, saya tertawa kecut membaca omongan spontan mendikbud yang dikutip Jawa Pos itu. Ada benarnya memang. Dan dari dulu kualitas NTT ya seperti itu. Selalu terpuruk di bawah.

Orang NTT sendiri, bahkan sejak saya kecil, biasa mempelesetkan NTT menjadi Nusa Tetap Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu. Ada juga yang religius mengartikan NTT sebagai Nanti Tuhan Tolong.

Masalahnya, kali ini yang mengejek NTT (meski faktanya begitu) justru menteri pendidikan. Kok bisa begitu, komentar beberapa teman asal NTT di Jatim. Mestinya pak menteri kerja keras agar kualitas pendidikan di NTT terangkat. Setidaknya mendekati provinsi lain. Bukan malah membuat pernyataan yang makin memojokkan NTT - yang memang sudah lama terpuruk.

Benar saja. Pernyataan mendikbud sempat dibahas di media massa dan media sosial di kalangan NTT. Jelek-jelek begini orang NTT juga banyak yang berada di belakang media massa nasional. Jangan dikira orang NTT tidak membaca pernyataan mendikbud itu.

Akhirnya kemendikbud datangi media massa untuk klarifikasi. Bukan menterinya. "Pak Menteri tidak ada maksud merendahkan NTT," kata Ari Santoso, jubir kemendikbud.

Ari kemudian membeberkan data yang makin memperlihatkan ketertinggalan NTT. Indeks pembangunan manusia NTT hanya 63, sedangkan nasional 70. Hasil ujian nasional di NTT di bawah rata-rata. Kompetensi guru cuma 50, sedangkan nasional 56.

Jumlah sekolah yang terakreditasi di NTT sangat sedikit. Hanya 30 persen saja.

Kalau sudah punya data seperti itu ya, kemendikbud harus KERJA NYATA (pinjam istilah Jokowi). Segera memperbaiki kualitas pendidikan di NTT. Bukan malah menjadi bahan ejekan. Jadi bahan ngeles untuk kontra agumen melawan PISA.

Ojo lali Pak Menteri, NTT itu juga Indonesia lho. Bahkan jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno sudah menggembleng nasionalisme Indonesia di Flores tahun 1934-1938. Bung Karno juga merumuskan Pancasila di bawah pohon sukun di Ende, Flores. Baca dong buku-buku sejarah itu!

Lah, kok sekarang ketika lembaga internasional merilis hasil penelitian yang hasilnya gak enak, mendikbud enak saja bilang, "Itu kan di NTT!"

07 December 2017

Ki Boen Liong Dalang Tionghoa Ciamik

Tidak banyak orang Tionghoa yang menggeluti seni pedalangan. Opo maneh dadi dalang. Lah... wong Jowo aja belum tentu suka wayang kulit. Apalagi kids jaman now.

Nah, Tee Boen Liong ini merupakan pengecualian. Wong Tenglang Suroboyo ini sudah lama menekuni seni tradisional Jawa. Bahkan sudah lama menjadi dalang. Makanya Boen Liong lebih dikenal dengan sapaan Ki Boen Lion. Ada juga yang menyapa Ki Sabdo Sutejo.

''Kalau bukan kita yang melestarikan (wayang), lalu siapa lagi? Mosok wong Londo yang diminta belajar seni pedalangan,'' kata seniman serbabisa ini.

Ki Boen Liong sudah biasa bermain di berbagai kota. Di Surabaya dia selalu ditanggap di Kapasan, kampung pecinan di bagian utara Kota Pahlawan. Orang-orang Tionghoa di Kapasan sejak dulu punya tradisi ruwat desa atau sedekah bumi. Salah satu hiburannya adalah wayang kulit.

''Di Kapasan ini wayang kulitnya digelar dua hari berturut-turut. Puji Tuhan, kami punya dalang sendiri, ya Boen Liong itu,'' ujar Antonius Gunawan, tokoh masyarakat Kapasan.

Berbeda dengan ruwat desa di Jawa umumnya, pelaksanaan ruwat desa di Kapasan diadakan untuk merayakan hari lahir Nabi Konghucu. Ada kelentengnya yang dikenal sebagai Boen Bio itu. Gunawan mengatakan bahwa upacara ruwatan menggabungkan budaya Jawa dan Tionghoa.

''Ini yang membuat Kapasan sangat unik. Makanya sering diliput media masa,'' ujar Gunawan lantas tertawa kecil.

Tahun ini Ki Boen Liong tidak pentas di Kapasan. Ia diganti dalang remaja yang tak lain kadernya Ki Sabdo. ''Yang senior harus kasih kesempatan kepada yang muda,'' kata Boen Liong.

Kapan naik pentas lagi?

"Sebentar lagi ada saya pentas di PRJ (Pekan Raya Jakarta). Kalau gak bisa datang jangan khawatir. Nanti saya naikkan di Youtube kok,"  ujar Ki Dalang yang ramah itu.

Ada gak sinden yang cakep dan semok?

Tee Boen Liong: "Hehehe... Saiki sindennya yang semok cuma satu. Tenglang masih 15 tahun."

Hiahaha.... iso ae Ki Dalang Tenglang ini.

06 December 2017

Air Supply vs Musisi Indonesia

Graham Russel dan Hitchcock tiba di Sidoarjo, tepatnya di Bandara Juanda kemarin sore. Rabu malam langsung konser di Surabaya. Sekaligus merayakan 40 tahun karir bermusik kedua seniman sepuh ini sebagai motor Air Supply.

Luar biasa. Graham 67 tahun, Russel 68. Jelang kepala tujuh. Tapi mereka masih keliling dunia untuk bikin konser. Bukan cuma sekadar nostalgia, tapi pertunjukan dengan standar normal Air Supply. Lihat saja tiket masuk ke Grand City yang sangat mahal untuk ukuran Jatim.

Standar yang sama dengan ketika Air Supply lagi di atas angin tahun 80an atau 90an. ''Kami ingin ajak masyarakat Surabaya untuk senang-senang. Menyanyi dan joget bersama,'' kata Russel yang barusan konser di Hongkong.

Musik pop yang melodius, manis, ala Air Supply memang cocok banget dengan selera orang Indonesia. Seperti Peter Cetera yang biasa digandengan David Foster. Tidak heran Air Supply ini sudah sering konser di Indonesia, khususnya Jakarta. Surabaya baru sekali ini.

Setiap kali melihat konser band atau artis senior Barat, saya selalu terenyuh. Prihatin. Sebab penyanyi atau musisi NKRI tidak pernah bertahan lama di blantika musik. Industri musik kita tidak ramah bagi musisi senior. Pop Indonesia hanya kasih tempat untuk artis di bawah 27 tahun rata-rata.

Usia di atas 30 biasanya sudah sepi pasaran. Sulit bikin album. Apalagi bisa tur ke berbagai kota. Satu-satunya band yang eksis sampai tua adalah Godbless yang dimotori Achmad Albar itu. Sayang, standar pertunjukannya beda jauh dengan era keemasan dua atau tiga dekade lalu.

Para musisi sepuh pun harus kerja serabutan agar bisa tetap makan minum. Bahkan ada rocker top lawas yang terpaksa jadi dukun alias paranormal. ''Saya sering ajukan proposal tapi selalu ditolak. Gak laku,'' ujar rocker lawas yang sudah almarhum itu.

Ada juga rocker yang jadi pendeta. Seperti Sunatha Tanjung dari AKA Band. Gitaris ini bisa tenang di usia senja karena sudah ada sumber nafkah... meskipun kalah jauh ketimbang bayaran rock star di masa jayanya. ''Sedikit tapi ada berkatnya. Buat apa bayaran besar tapi tidak berkat. Cepat habis,'' ujar gitaris kawakan ini kepada saya beberapa tahun lalu.

Melihat Air Supply yang masih greng, keliling dunia, saya makin prihatin dengan banyak band bagus kita yang bubar. Dewa 19 hilang karena pentolannya Ahmad Dhani sibuk main politik. Sibuk jadi oposan yang setiap hari menyerang pemerintah. Tidak ada waktu lagi untuk bikin lagu, main band, atau konser.

''Padahal Dhani ini punya talenta luar biasa di musik. Belum tentu 25 tahun sekali ada musisi sekaliber Ahmad Dhani,'' kata Once vokalis Dewa 19.

01 December 2017

Konser Natal SSO 2017 di Manyar Rejo

Bulan Desember datang lagi. Bumi makin basah dua minggu ini. Beda dengan tahun lalu yang kurang basah hingga pekan kedua Desember. Dan... tentu saja mulai masuk Adventus, masa persiapan menyambut Natal.

Bung Ray baru saja kasih tau bahwa Surabaya Symphony Orchestra (SSO) mengadakan konser Natal. Christmas Concert yang digelar orkes simfoni pimpinan Solomon Tong itu digelar pada 19 Desember 2017 pukul 19.00 sampai 21.00. Tempatnya di SSO Auditorium, Jalan Manyar Rejo I/4 Surabaya.

Bisa saya pastikan konser mesti digelar hari Selasa. Kok bukan Jumat Sabtu atau Minggu?

Saya belum tanya ke Bapak Solomon Tong, pendiri sekaligus dirigen SSO yang selalu antusias itu. Selalu lupa kalau sudah ketemu Pak Tong di sekretariat SSO di Urip Sumoharjo, kemudian pindah ke Gentengkali, lalu terakhir punya tanah dan bangunan sendiri di Manyar Rejo.

Yang jelas, sejak dulu saya perhatikan konser-konser besar SSO (Natal, Paskah, dan Kemerdekaan) selalu hari Selasa.

Mungkin kalau diadakan akhir pekan, penggemar musik klasik berada di luar kota. Biasa... liburan bersama keluarga ke Batu, Trawas, bahkan Singapura. Maka Pak Tong sengaja memilih Selasa. Bisa juga Selasa adalah hari baik SSO.

Yang berbeda dari konser-konser sebelumnya adalah tempatnya. Setahu saya baru kali ini tidak diadakan di ballroom hotel bintang lima. Tapi di Auditorium SSO, Manyar Rejo I/4 Surabaya. Mungkin Pak Tong menganggap aula besarnya itu sudah memenuhi syarat akustik untuk pergelaran musik klasik.

Sekadar mengingatkan, SSO pertama kali menggelar konser Natal pada 1996. Sekaligus jadi tonggak berdirinya SSO. Dus, sudah 21 tahun. Luar biasa! Pak Tong mampu menjaga stamina di usia senja dan mampu mempertahankan orkes simfoninya itu. Rutin mengadakan konser besar tiga kali setahun. Non stop!

Konser pertama pada Desember 1996 diadakan di Hotel Westin (sekarang jadi JW Marriott) di Embong Malang. Sempat sekali di Sheraton, kemudian jadi langganan ballroom Shangrila yang memang paling ciamik di Surabaya. Tempat ini juga pas dengan segmen utama penikmat musik simfoni yang jadi target SSO.

Seperti biasa, konser Natal pastilah menghadirkan komposisi yang bernuansa Natal. Paduan suara dewasa, kor anak, lagi solo, hingga piano. Bagi Solomon Tong, yang juga pendiri salah satu sinode gereja Tionghoa, konser Natal sudah merupakan bagian dari ibadahnya untuk menghadirkan musik yang berkualitas kepada masyarakat di Kota Pahlawan.

Persebaya memang luar biasa

Selamat untuk Persebaya!
Selamat datang kembali ke Liga 1!

Awalnya saya meragukan Persebaya bisa lolos ke Liga 1 musim depan. Ini setelah melihat penampilan arek-arek Green Force yang tidak menjanjikan di beberapa pertandingan awal Liga 2 yang selalu disiarkan tvOne itu. Apalagi ketika masih dipegang pelatih Iwan Setiawan.

Para pemain sering salah passing. Salah pengertian. Skema bermainnya juga kurang jelas. Karena itu, tidak heran Persebaya didikte tim kecil macam Madiun Putra. Kemudian kalah oleh Martapura FC. Suporter militan Bonek sempat berteriak keras dengan memasang spanduk protes di kawasan Gedangan, Waru, Krian, Porong dsb.

Oh ya... sebagian besar warga Sidoarjo memang pendukung berat Persebaya. Sejak era perserikatan pemain-pemain bagus dari Sidoarjo menjadi andalan Persebaya. Bahkan, kapten Persebaya sekarang pun asli Sidoarjo.

Syukurlah, manajemen Persebaya tanggap. Iwan Setiawan dipecat. Diganti Angel Alfredo Viera. Coach asal Argentina ini memang jempolan meski awalnya juga kesulitan membenahi permainan Green Force. Alfredo mengubah gaya Persebaya menjadi tim yang bermain pendek, cepat, banyak menguasai bola. Cocok dengan fisik pemain-pemain Persebaya yang kecil dan pendek.

Perlahan tapi pasti, penampilan Persebaya makin joss saja. Makin dominan di lapangan. Menang menang menang.... Posisi di klasemen pun terangkat. Kalau begini terus, peluang besar untuk tampil di 16 besar.

Benar saja. Persebaya akhirnya menjadi the winning team. Tampil di 8 besar, Persebaya mencatat rekor sempurna. Menang 100 persen. Lima pertandingan menang. Opo ora hebat?

Saat melawan PSPS sebenarnya arek-arek sangat tertekan. Maklum, pemain-pemain dari Pekanbaru Riau ini punya badan besar dengan skill tinggi. Kalah penguasaan bola, tapi serangan baliknya sangat berbahaya. Apalagi kalau bola sudah dikuasai striker naturalisasi itu. Belum lagi tembakan jarak jauh Viktor Pae asal Papua yang sangat keras.

Syukurlah, coach Alfredo punya strategi meredam PSPS. Begitu dapat peluang, arek-arek bergerak sangat cepat dan bikin gol. Saya kira itulah kemenangan penting yang membuat motivasi arek-arek untuk promosi ke Liga 1 makin membuncah.

Sekarang Persebaya sudah dapat tiket Liga 1. Menjadi salah satu dari 18 klub elite yang berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Tentu saja kualitas tim-tim Liga 1 jauh lebih bagus ketimbang Liga 2. Materi pemain yang ada saat ini saya rasa belum cukup untuk bersaing di papan atas alias enam besar.

Belajar dari kompetisi Liga 1 kemarin, materi pemain yang ciamik menjadi resep sukses Bhayangkara FC sebagai juara. Tim milik polisi itu diperkuat pemain-pemain bagus di semua lini. Otak lini tengahnya Evan Dimas yang notabene mantan pemain Persebaya. Di depan ada Spaso yang haus gol.

Bhayangkara ini unik karena tidak punya suporter. Sejak bermarkas di Gelora Delta Sidoarjo, kemudian pindah ke Bekasi, saya lihat pendukungnya cuma polisi. Itu pun dimobilisasi ke stadion. Bhayangkara tidak punya ikatan batin kedaerahan seperti Persebaya, Arema, Persija, Persib, atau PSMS.

Tapi kok bisa tampil ciamik dan stabil sepanjang 34 pertandingan di Liga 1?

Yah... sekali lagi karena materi pemainnya yang memang hebat. Bukan lantaran faktor nonteknis sebagaimana sempat dituduhkan Haruna, manajer Madura United, beberapa waktu lalu. Fakta di lapangan menunjukkan Bhayangkara selalu tampil bagus dan dominan. Justru pemain-pemain-pemain Madura yang main kayu sehingga dapat tiga kartu merah. Termasuk si Peter mantan pemain Liga Inggris itu.

Pesta kemenangan Persebaya sudah selesai. Sekarang giliran manajemen untuk menyiapkan tim yang berkualitas untuk menyongsong Liga 1 musim depan. Sebab suporter setia alias Bonek dari dulu menginginkan Persebaya menjadi juara kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Bukan cuma sekadar bertahan di Liga 1.