30 November 2017

Ada alumni unjuk rasa di Indonesia

Lagi ramai di internet rencana reuni alumni 212. Tempatnya di Monas Jakarta. Mereka ini ribuan orang yang tahun lalu unjuk rasa mendesak aparat agar segera menangkap Ahok, yang waktu itu gubernur Jakarta.

Ada yang unik dalam istilah itu: reuni alumni 212. Setahu saya, dan menurut banyak kamus, istilah ALUMNI atau ALUMNUS (tunggal) itu terkait dengan lembaga pendidikan seperti sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi. Setelah lama berpisah, sibuk dengan urusan masing-masing, lalu berkumpul kembali. Namanya REUNI.

Saya pun mengecek kamus besar alias KBBI yang terkenal itu. Ada kata ALUMNI dan ALUMNUS. Deskripsinya: ''orang-orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi''.

Kok bisa orang-orang yang dulu unjuk rasa disebut alumni? Bikin reuni pula? Dan belum setahun sudah bikin reuni? Hehe....

Setahu saya yang namanya reuni sekolah atau kampus itu tunggu bertahun-tahun. Biasanya setelah bekerja, punya anak, bahkan cucu. Lalu kangen-kangenan sejenak. Orang Tionghoa di Jatim setahu saya paling doyan bikin reuni. Khususnya reuni sekolah dasar, SMP dan SMA. Saya berkali-berkali-kali meliput reuni alumni sekolah-sekolah Tionghoa di Surabaya.

Saya sendiri belum pernah ikut reuni sekolah. Mulai SD hingga SMA dan perguruan tinggi. Beberapa teman berencana gelar reuni tapi gagal terus. Dan saya sendiri tidak antusias alias malas ikut reuni karena tidak ada ikatan batin lagi.

Lah... kok ini ada reuni alumni 212 di Jakarta? Opo maneh?

Mungkin suatu ketika kamus bahasa Indonesia perlu menambah keterangan baru di lema ALUMNI. Bahwa ALUMNI tak lagi terbatas pada lembaga pendidikan atau organisasi tapi juga peserta unjuk rasa.

28 November 2017

Siapa suruh berdoa minta hujan

Saya cukup sering berdoa minta hujan pada Oktober dan November lalu. Maklum, suhu lagi panas ekstrem. Begitu banyak orang Surabaya dan Sidoarjo mengeluhkan suhu yang sudah mendekati 40 celcius. Tapi... doa-doa itu belum dikabulkan oleh Sang Mahakuasa Alam Semesta.

Maka, saya menjadi sering banget minggat ke Trawas Mojokerto. Kawasan pegunungan yang tingginya 800an meter dari muka laut. Suhunya memang enak banget untuk tidur nyenyak. Kontras dengan di Surabaya.

Saking seringnya naik, Mbak Hasanah yang sudah saya anggap keluarga di kawasan Jolotundo heran. Jangan-jangan ada masalah di bawah. Benar. Masalahnya ya suhu yang panas ekstrem. Tidak bisa tidur.

Sang surya, ada doa atau tidak, terus bergerak ke selatan. Gerakan semu matahari karena yang bergeser sebenarnya bumi. Akhirnya permintaan saya mulai dikabulkan Gusti Allah. Hujan mulai turun di Surabaya dan Sidoarjo. Dahsyat!

Saking derasnya, air tergenang di mana-mana. Surabaya terendam parah Kamis lalu. Minggu giliran Porong yang terendam air hingga satu meter. Jalan Raya Porong di kawasan lumpur jadi sungai. Rel kereta api tidak bisa digunakan.

Pagi ini ada laporan bahwa Berbek Waru juga banjir. Genangan setinggi pinggang orang dewasa. Wuih...

Cuaca saat ini memang ekstrem. Selama dua bulan panas ekstrem, diimbangi dengan hujan yang juga ekstrem. Oh ya... tidak jauh dari warkop ini hampir 800 rumah di Tambakrejo, Tambaksawah, dan Tambaksumur ambruk diterjang angin puting beliung pada Rabu sore pekan lalu.

Bukankah kita yang berdoa minta hujan? Setelah dikasih hujan, mengapa menyalahkan hujan? Saya pun merenung. Serba salah kita orang ini. Ibarat makan buah simalakama. Tidak hujan panasnya ekstrem, hujan sedikit saja sudah banjir.

''Paling enak itu ya hujan tapi tidak banjir,'' kata Maya asal Gedangan Sidoarjo.

Hehehe.... Manusia memang suka enaknya sendiri. Sementara alam juga punya rumus keseimbangan sendiri.

Paus Fransiskus atau Pope Francis atau Papa Francesco

Koran pagi ini memberitakan Paus Fransiskus mengunjungi Myanmar. Pemimpin umat Katolik sedunia itu juga menyambangi pengungsi Rohingya. Juga dijadwalkan melawat ke Bangladesh.

Ada teman bertanya di warkop kawasan Rungkut Surabaya. Nama paus yang benar itu siapa? Fransiskus atau Francis atau Francesco atau Franciscus atau Frans atau.... ?

Semuanya benar, jawab saya.

Kalau media berbahasa Inggris ya pasti ditulis Pope Francis. Media bahasa Indonesia ya Paus Fransiskus. Bahasa Malaysia pakai Pope Francis persis bahasa Inggris.

Dari dulu Malaysia tidak punya terjemahan kata pope yang artinya paus. Mereka menganggap paus itu ya ikan besar yang biasa diburu para nelayan Lamalera di Lembata NTT itu. Paus yang di Vatikan tetap saja Pope.

Selain Malaysia, Brunei, dan negara-negara yang tidak punya umat Katolik, sejak dulu Gereja Katolik di seluruh dunia selalu melakukan penolakan nama-nama permandian (santo santa) serta berbagai istilah. Agar cocok dengan gramatika, khususnya sistem bunyi bahasa nasional setempat.

Karena itu, orang Katolik di Indonesia pakai Fransiskus, bukan Francis, bukan Francesco. Bukan pula Franciscus (pakai c) karena bunyi fonem C dan K berbeda dalam bahasa Indonesia. Paus Yohanes Paulus, bukan Paus John Paul, bukan Joannes Paulo dsb.

Orang Katolik di Indonesia pakai Yohanes bukan John. Paulus bukan Paul. Yakobus bukan James. Matius bukan Matthew atau Matthaeus (Jerman, jadi ingat pemain bola Lothar Matthaeus yang top banget di masa lalu).

Albertus bukan Albert. Benediktus bukan Benedict. Lambertus bukan Lambert atau Lamberto. Sisilia bukan Caecilia. Lukas bukan Luke. Dan seterusnya....

Mengapa Pope diterjemahkan menjadi Paus? Jangan lupa, Indonesia dulu dijajah Belanda. Karena itu, kata PAUS dari Belanda yang berarti POPE itu dipungut ke dalam bahasa Indonesia. Mudah diucapkan karena bunyi dan tulisannya sama persis dengan bahasa Indonesia.

Tapi kok Paus di Vatikan disamakan dengan paus yang ikan itu? Tidak juga. Semua bahasa di dunia selalu punya kata-kata yang sama tapi artinya lebih dari satu. Kalimat itu selalu ada konteksnya. Kalau disebut Paus Fransiskus tentu tidak ada kaitan dengan ikan.

Sayang sekali, tradisi transliterasi dan penyerapan kata/istilah yang dilakukan Gereja Katolik sejak tempo doeloe itu mulai digerogoti oleh orang Katolik sendiri. Perhatikan saja nama-nama orang Katolik di Pulau Jawa. Banyak yang pakai Peter, padahal seharusnya Petrus. James seharusnya Yakobus. John seharusnya Yohanes.

Ketika romo menjadi bapak (lepas jubah)

Wajah di situs berita nasional itu sangat saya kenal. Sandyawan Sumardi. Tapi tidak lagi pakai embel-embel SJ di belakang namanya. Juga tidak ada sebutan romo seperti dulu. Cuma ditulis tokoh masyarakat, ketua LSM, dan semacamnya.

Jangan-jangan Sandyawan ini sudah lepas jubah? Tidak lagi jadi romo jesuit? Jadi awam alias orang biasa? Saya pun mengirim pesan kepada seorang romo teman akrab Sandyawan.

''Iya... Sandyawan sudah bukan romo lagi,'' tulisnya. Singkat tapi jelas maknanya.

Saya pun tidak banyak bertanya lagi. Misalnya: Mengapa mundur? Apakah punya istri (dan anak)? Nggak enak dibicarakan. Biasanya hal-hal sensitif macam ini dibicarakan sambil ngopi. Tidak bagus kalau lewat telepon atau WA atau SMS. Ora ilok!

Melihat wajahnya, saya jadi teringat masa lalu. Tahun 96 atau 97 ketika Romo Sandyawan sering diundang ke Jawa Timur. Mahasiswa Katolik saat itu sangat terinspirasi dengan model pastoral ala Romo Sandy. Bersama Institut Sosial Jakarta (ISJ), Sandyawan sangat aktif melakukan advokasi dan pendampingan para korban.

Korban penggusuran hingga korban politik orba. Sepak terjang Sandyawan membuat rezim orba gerah. Dia pun dituduh menyembunyikan pentolan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang sedang diburu aparat. Sandyawan kemudian ditangkap dan diadili. Vonisnya bebas.

Suatu ketika Sandyawan yang romo itu ceramah di Paroki Situbondo. Gerejanya belum lama dibakar massa tak dikenal. Usai ceramah tentang korban, pemihakan kepada wong cilik, option for the poor, Romo Sandyawan memimpin misa minggu palem.

Kebetulan saya ditunjuk jadi solis untuk mazmur. Wow... saya ingat betul homili Romo Sandyawan yang halus tapi menarik. Dia bukan tipe penceramah yang suka bicara keras, meledak-ledak. Suaranya agak lirih tapi isinya berbobot. Khas Jesuit yang intelektual.

Selepas reformasi, setahu saya Romo Sandyawan tidak lagi diundang ceramah di Jatim. Apalagi romo yang jadi teman akrabnya pun dipromosikan untuk tugas yang lebih menasional di Jakarta. Di media massa pun Sandyawan jarang muncul. Apa kabar ISJ?

Akhirnya, tidak sengaja saya melihat foto Sandyawan di laman berita daring. Sandyawan yang tak lagi pakai embel-embel SJ dan romo. Tapi saya percaya dia tetap punya komitmen untuk mendampingi para korban seperti pada era orde baru.

Yang jadi masalah, orang Katolik di Indonesia biasanya kurang respek terhadap romo yang lepas jubah. Para eksim (eks imam) ini sering dijauhi meskipun punya rekam jejak masa lalu yang cemerlang. Akibatnya, banyak eksim yang tertekan atau stres. Mereka pun memilih pindah ke kota lain agar tidak dikenal mantan umatnya.

Semoga Bapak Sandyawan tetap semangat dan selalu diberkati Tuhan dalam pelayanan di masyarakat. (Dalam bahasa Jawa, kata ROMO dan BAPAK artinya sama. Bedanya romo itu krama, bapak ngoko.) Kaum marginal atau wong cilik yang jadi mitra pelayanan Sandyawan selama ini justru kaum ngoko, bukan kromo inggil.

27 November 2017

Sulitnya mencari pembantu jaman now

Sudah lama beberapa ibu gedongan mengeluhkan betapa susahnya cari asisten rumah tangga (ART). Istilah baru untuk PRT: pembantu rumah tangga. Banyak sih pengusaha penyalur pembantu, baby sitter dan sejenisnya di kota besar.

Tapi menemukan pembantu yang cocok, dan kerasan? Ini yang sulit. Zaman dulu para PRT alias ART ini umumnya betah tinggal bersama majikan. Bertahun-tahun. Sampai punya anak. Sampai tua. Sering dianggap keluarga sendiri.

Jaman now? Pembantu yang bisa bertahan satu tahun saja sudah hebat. Biasanya jelang Lebaran, pembantu-pembantu ini mudik dan... hilang seterusnya. Yang balik lagi ke rumah majikan kurang 10 persen.

ART-ART ini sudah pasti balik lagi ke kota karena butuh penghasilan tetap. Tapi biasanya mereka mencari majikan baru yang dianggap lebih cocok. Plus beban kerja yang lebih ringan. Tapi bayaran sama atau lebih tinggi. Bisa juga cari kerja di pabrik, jaga toko, atau kerjaan lain di luar urusan rumah tangga.

Fenomena ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak pertengahan 90an. Cuma tidak sehebat sekarang. Dan itu ada kaitan dengan keberhasilan wajib sekolah 9 tahun di Indonesia. (Saya kurang suka istilah wajib belajar 9 tahun. Bukankah semua orang wajib belajar sampai mati?)

Dengan wajib sekolah 9 tahun, gratis di sekolah negeri, otomatis wawasan para gadis remaja ini jauh lebih terbuka ketimbang gadis-gadis yang hanya tamatan SD. Bahkan biasanya setamat SMP, lanjut SMA atau SMK atau MA. Tentu saja para lulusan SMA dari desa-desa ini enggan jadi ART. Mereka lebih suka jadi art worker semacam penyanyi dangdut dan sejenisnya.

Tapi masih banyak kok lulusan SMA yang jadi pembantu di kota besar? Nah, berdasarkan survei saya, yang enteng-entengan, bukan survei beneran ala LSI, sebagian besar pembantu usia muda (lulusan SMA) ini janda muda. Usianya di bawah 24 tahun. Rata-rata punya anak satu.

''Saya kerja untuk membiayai anak saya di kampung,'' ujar seorang mantan ART yang kabur dari majikannya di Surabaya Barat. ''Saya juga pernah jadi TKI,'' katanya.

Jadi TKI pun sebetulnya sama-sama ART alias bekerja sebagai pembantu juga. Tapi upahnya lebih tinggi ketimbang ART di Jakarta atau Surabaya atau Malang. Gaji bulanan ART di Malaysia di atas upah minimum buruh di Surabaya yang Rp 3,2 juga itu. ''Tapi kangen sama anak dan orang tua,'' katanya.

Lantas, mengapa Mbak ART ini sering gonta-gonti majikan? ''Kalau gak cocok ya cari majikan baru,'' ujarnya enteng.

Perlahan tapi pasti, Indonesia ini mulai mengarah ke kehidupan ala orang Barat. Saya selalu perhatikan film-film Amerika atau Eropa tidak ada yang mamanya ART atau pembantu di rumah. Sang aktor biasanya ke dapur untuk memasak makanan untuk pacarnya. Atau si cewek yang masak sendiri di dapur. Atau mamanya si aktor itu yang masak.

Mungkin karena di Barat yang namanya ART diperlakukan sama dengan pekerjaan-pekerjaan lain dengan gaji yang tinggi. Jam kerja, beban kerja, kontrak, hingga job description... harus dibuat sejelas-jelasnya. Itu yang belum ada di Indonesia.

24 November 2017

Surat kertas jadi barang langka

Kapan terakhir kali Anda menerima surat kertas? Bukan surat elektronik. Surat pribadi, bukan surat dinas atau penawaran produk dan semacamnya?

Hem... bisa saya pastikan di jaman now yang serba digital ini hampir tidak ada lagi surat pribadi. Menulis surat pakai tulisan tangan, masukkan amplop, tempel prangko... kirim lewat kantor pos. Tidak mungkin lagi memasukkan ke kotak surat karena sudah tidak ada lagi.

Selama tahun 2017, yang usianya tinggal sebulan ini, saya hanya terima SATU surat. Pengirimnya Cak Kris, wartawan senior RRI Surabaya. Isinya meminta saya menulis artikel pendek untuk katalog beberapa pelukis Sidoarjo yang hendak pameran di Surabaya.

Tanggalnya 27 Januari 2017. Wow... sudah lama banget. Saya kebetulan nemu karena bongkar tumpukan kertas di kantor. ''Saya terpaksa tulis surat itu karena baterai HP-ku mati,'' ujar Kris yang juga dikenal sebagai kurator seni rupa di Surabaya dan Sidoarjo itu.

Satu-satunya surat ini masih mendingan. Tahun lalu tidak ada surat kertas. Praktis sejak akhir Agustus 2013 saya tak lagi mendapat surat kertas khas old school. Tepatnya ketika Ibu Siti Riyati, pelukis senior yang akrab disapa Eyang di Ngagel Jaya Selatan, meninggal dunia. Tiga tahun saya tinggal bersama Eyang yang fasih bahasa Belanda, Inggris, dan lebih suka berkomunikasi dengan Jawa krama inggil itu.

Eyang yang rumahnya super luas itu tentu saja sangat mampu membeli HP alias ponsel. Beli mobil juga bisa lah. Tapi almarhumah yang kelahiran 1933 itu lebih suka menulis surat atau catatan. Setiap hari. Surat-surat itu kemudian dikirim ke sejumlah kenalan, mantan murid, hingga kerabat.

Surat atau pesan untuk saya biasanya ditaruh di atas meja. Biasanya mengingatkan ada agenda pameran, pengajian, pertemuan RW 3 dan sebagainya. Sebaliknya, saya juga diminta menulis surat atau pesan kalau tidak pulang. Ke mana, untuk apa, pulangnya kapan dsb.

''Eyang Yati itu memang punya bakat menulis. Surat-suratnya enak dibaca dengan tulisan tangan miring ke kanan yang indah. Khas orang-orang lama,'' ujar Mas Yanto, pelukis yang sering menerima surat dari si Eyang.

Saya sering mengajari Eyang untuk menulis pesan pakai SMS saja. Lebih mudah dan cepat. Langsung dibalas. Kalau pakai surat lama baru sampai. Malah sering terjadi surat hilang di jalan. ''Gak enak SMS itu. Saya lebih suka telepon langsung dan pakai surat,'' kata mbah yang doyan berlanggan majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat sejak gadis hingga tutup usia itu.

Begitulah. Surat kertas kini tinggal kenangan. Anak-anak muda generasi milenial mungkin belum pernah melihat wujud surat yang pakai prangko. Atau menerima surat dari teman atau keluarga via pos. Sebab sistem komunikasi digital atau seluler di jaman now memang jauh lebih efektif ketimbang via surat lawas.

Tidak perlu menunggu dua tiga hari, seminggu atau dua minggu. Dalam hitungan detik kita bisa mengirim surat elektronik (email) dengan siapa saja, di mana saja. ''Anehnya, sekarang ini janjian sama orang malah sering mbeleset. Beda dengan dulu ketika belum ada smartphone yang canggih,'' ujar Cak Kris.

18 November 2017

Persebaya tinggal satu langkah

Lega rasanya hati ini setelah Fauzi menceploskan gol ke gawang PSPS Riau. Persebaya pun dipastikan lolos ke semifinal Liga 2. Tinggal selangkah lagi tim berjuluk Green Force itu memastikan naik ke Liga 1.

Di warkop kawasan Rungkut Surabaya, belasan penggemar bola sempat ketar-ketir melihat laga Persebaya vs PSPS di layar kaca. Begitu alot. PSPS ternyata sangat tangguh. Bahkan serangan-serangannya sangat berbahaya.

Andai saja ada celah sedikit, pemain seniornya bisa dengan mudah mencetak gol. Untung saja pemain belakang Persebaya mampu menutup ruang gerak striker gaek itu (lupa namanya).

Persebaya yang kalah fisik masih dengan gayanya bermain pendek. Kaki ke kaki. Andalkan umpan terobosan. Sayang, PSPS sudah antisipasi. Buntu di babak pertama.
Syukurlah, di menit-menit akhir ada peluang emas. Umpan Okto dari sisi kiri bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Fauzi. Goool!!!

Perjuangan Persebaya untuk kembali ke Liga 1 masih berat. Arek-arek Green Force wajib masuk final. Alias harus menang di semifinal. Dua lawan sudah menunggu: PSMS Medan dan Martapura FC.

Dari empat semifinalis, tiga tim berhak promosi ke Liga 1. Masak sih Persebaya gak iso!!!

Ayo... ayo... Persebaya!!!

12 November 2017

Umat Katolik yang terlambat misa

Misa pertama di Gereja Salib Suci, Tropodo, Waru, Sidoarjo, pagi tadi dipimpin Pater Servas Dange SVD. Lebih sejuk karena mulai pukul 05.30 dan lebih cepat karena ordinarium (Kyrie, Gloria, Sanctus dst) tidak dinyanyikan.

Namun, misa yang terlalu pagi juga membuat cukup banyak umat yang terlambat. Ada yang telat lima menit... seperti saya, tapi ada juga yang telatnya di atas 15 menit. Repot memang umat yang terlambat misa. Sebab bangku-bangku sudah terisi penuh. Gereja Salib Suci ini memang dari dulu selalu ramai.

Nah, orang-orang yang terlambat itu biasanya malu (atau sungkan) maju untuk mengisi bangku kosong. Di bagian depan memang banyak tempat kosongnya. Saya nekat aja maju dan dapat tempat di posisi agak depan samping kiri. Namun ada pula satu keluarga yang memilih pulang karena tidak kebagian tempat duduk.

Gak nyangka, kasus umat terlambat dan sungkan maju ini jadi bahan khotbah Romo Servas. Saya pun merasa tersindir. Takut dimarahi romo. Ternyata yang dibahas adalah umat yang memilih pulang itu tadi. ''Ini harus jadi pelajaran untuk kita semua. Pengalaman itu guru terbaik,'' kata Romo Servas.

Pastor asal Flores ini menyentil sikap umat Katolik di Gereja Salib Suci yang terlalu fokus pada Tuhan dan cuek dengan jemaat yang terlambat. Mestinya ada reaksi. Diarahkan untuk mengisi tempat kosong (biasanya ada di depan). Petugas tatib (tata tertib) pun seharusnya mengantar umat yang terlambat ke tempat yang kosong.

''Kita perlu belajar untuk peduli sesama,'' ujar pater dengan sentilan khasnya.

Kelihatannya Romo Servas merasa kurang enak melihat ada domba-dombanya yang berniat ikut ekaristi tapi gagal hanya karena persoalan sepele. Buat apa gereja punya balai paroki yang luas jika tidak bisa menampung umat yang telat? Toh, tidak lebih dari 10 orang.

Ihwal disiplin ekaristi ini, sikap romo memang berbeda-beda. Ada yang toleran dan memahami seperti Romo Servas. Tapi ada juga yang keras seperti Romo X (sensor). Romo X ini tidak suka melihat umat yang terlambat. Juga tidak suka dengar anak-anak menangis atau jalan-jalan saat liturgi berlangsung.

Umat yang pernah mendengar sentilan (atau kemarahan) Romo X pasti langsung pulang jika misa sudah dimulai. Nekat masuk bisa-bisa jadi bahan homili. Gak enak blass! Dulu saya pernah disindir karena terlambat sekitar 10 menit.

Di NTT, khususnya kampung-kampung di Flores Timur dan Lembata, setahu saya romo-romo tidak marah meskipun banyak umat yang terlambat. Maklum, orang desa harus mengurusi kebun, ternak dsb. Belum lagi harus jalan kaki ke gereja.

Hanya saja, umat yang terlambat itu biasanya punya kesadaran untuk tidak maju sambut komuni. Jika terlambat hingga homili atau khotbah imam. Kalau masih kyrie atau gloria masih dibolehkan komuni. Prinsip ini masih saya pakai sampai sekarang di Jawa.

Lebih baik terlambat daripada tidak misa sama sekali! Begitu alasan pemaaf di NTT. Rupanya pastor asal NTT yang bertugas di Salib Suci itu, Romo Servas, masih menggunakan kearifan lokal NTT untuk 'memahami' umat yang terlambat. Bisa saja ban bocor di jalan, bukan? Bisa juga umat paroki lain yang belum tahu jadwal misa.

Perseka Waru Mundur dari Liga Askab Sidoarjo

Yang namanya kompetisi sepak bola di Indonesia selalu panas. Mulai dari Liga 1 hingga pertandingan bola kelas tarkam. Kompetisi internal Liga Askab Sidoarjo 2017 pun makin lama makin panas. Padahal tujuan utama liga tertinggi di Kabupaten Sidoarjo ini murni untuk pembinaan pemain muda.

Total ada 30 tim peserta kompetisi. Mereka terbagi dalam kelas utama, kelas satu, dan kelas dua. Yang paling keras tentu kelas utama alias kelas tertinggi. Saya biasa menonton di Lapangan Banjarsari Buduran setiap akhir pekan.

Wuih... saling jegal antarpemain, protes wasit, saling dorong, hingga mutung alias mogok main. Wasit terpaksa merogoh banyak kartu kuning. Ada juga kartu merah meskipun saya lihat wasitnya cenderung membiarkan permainan kasar di lapangan.

Sayang, kompetisi yang seharusnya jadi tontonan akhir pekan itu diwarnai aksi tidak terpuji. Perseka Waru memilih mundur dari kompetisi. Padahal tim asal Desa Kepuhkiriman ini dikenal sebagai salah satu klub terbaik di Sidoarjo. Perseka pun kerap menyumbang pemain-pemain bagus untuk Kabupaten Sidoarjo.

Ada apa dengan Perseka? Pihak Askab PSSI Sidoarjo enggan menyebutkannya. Namun bisa diduga Perseka kecewa dengan keputusan wasit dalam satu laga penting. Ganjalan ini gagal diselesaikan pihak askab dan panitia pelaksana (panpel).

''Perseka sudah mengirim surat menyatakan mundur dari kompetisi internal,'' ujar Ibnu Hambal, sekretaris Askab PSSI Sidoarjo, saat saya hubungi via telepon. Tidak disebut alasan mundurnya Perseka dari Liga Askab Sidoarjo.

Yang pasti, pengurus askab sudah koordinasi dengan pandis (panitia disiplin) untuk membahas kasus ini. Khususnya mencari sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya. Perseka bakal degradasi?

''Saya tidak tahu. Soal itu (sanksi) jadi kewenangan pandis. Askab hanya meneruskan surat dari Perseka yang menyatakan mundur,'' kata tokoh bola Kota Delta yang juga pemilik PS Bligo Putra Candi itu.

Dengan mundurnya Perseka, maka peserta kelas utama tinggal 9 tim. Bligo Putra, Tiga Putra Agung, Pesawad Waru, Putra Bungurasih, Tunas Jaya Sepande, Sinar Harapan, Cakra Buana, Trisula Tanggulangin, dan New Star Salam Sukodono.

Mundurnya Perseka sekaligus membuat jumlah laga masing-masing-masing klub berkurang satu. Mestinya 9 kali menjadi 8 kali. ''Kami sudah surati semua tim yang isinya pertandingan melawan Perseka dianggap tidak ada. Pengelola lapangan juga sudaj disurati,'' kata Pak Benu, sapaan akrab Ibnu Hambal.

Sedih juga mendengar kabar mundurnya Perseka dari Liga Askab Sidoarjo. Maklum, saya sangat sering ngopi-ngopi di warkop yang berada di kompleks Lapangan Perseka, dekat pintu gerbang Perumahan Rewwin Waru. Saya juga kerap membahas kiprah klub ini yang selalu berhasil membina pemain-pemain muda. Pelatih-pelatihnya pun banyak mantan pemain top Persebaya.

Mudah-mudahan kasus Perseka segera dicarikan jalan keluar terbaik. Demi masa depan anak-anak dan remaja yang sudah lama mengukir mimpi menjadi pemain sepak bola masa depan.

11 November 2017

Ibu dan anak sibuk main HP

Ibu dan anaknya ini asyik dengan ponsel masing-masing. Sambil menunggu cuci motor di kawasan Pagesangan Surabaya. Serius banget. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut si anak dan ibu.

Apa boleh buat. Saya pun mencari kesibukan dengan ponsel. Menulis cerita singkat ini. Sebab paket dataku sudah habis. Tidak bisa untuk internet.

Yah... zaman memang sudah berubah. Teknologi informasi, khususnya ponsel pintar (smartphone) telah mengubah perilaku masyarakat. Budaya tutur, jaringan, ngobrol di warkop dsb sudah diganti dengan media sosial.

Luar biasa!

09 November 2017

Pejalan kaki kok disalahkan

Masalah pejalan kaki sedang ramai di internet. Gara-gara Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno melontarkan pernyataan yang sedikit banyak menyinggung perasaan pejalan kaki. Katanya pejalan kaki justru ikut menyumbang kemacetan.

Wuih... Baru jadi pejabat sudah bikin kontroversi yang tidak perlu. Jelas saja warganet ramai-ramai mengecam bapak wagub ini. Lah, rakyat dianjurkan jalan kaki, naik kendaraan umum, kok malah diserang? Yang pakai mobil pribadi, bikin jalan macet, malah tidak disinggung sama Sandi.

Soe Tjen Marching, teman lama, dosen di London, Inggris, rupanya ikut panas membaca pernyataan Wagub Sandiaga. Wanita Surabaya yang aktivis ini kemudian menulis begini:

''Pengalaman saya selama di Indonesia: kendaraan itu justru tidak menghargai pejalan kaki. Orang mau nyeberang dilanggar saja. Trotoar dipenuhi sepeda motor plus PKL, jadinya saya males jalan. Padahal di negeri2 yg sudah lebih sadar lingkungan, berjalan itu digalakkan & pejalan kakinya dilindungi. Eh, wa-Gabener satu ini malah bilang begini: Pejalan Kaki Penyebab Semrawut Tanah Abang.''

Betul juga Dr. Soe Tjen yang asli Surabaya ini (meskipun Tionghoa). Saya sudah sering curhat soal itu. Pejalan kaki di Indonesia kalah sama kucing. Kalau kucing lewat di jalan, pengemudi mobil dan motor pasti memperlambat kendaraannya. Kasih kesempatan si kucing lewat. Sebab menabrak kucing bisa kualat.

Beda dengan manusia. Jangankan berhenti agar pejalan kaki bisa menyeberang di zebra cross, pengemudi biasanya tambah gas. Mempercepat laju kendaraannya. Maka sering banget terjadi pejalan kaki jadi korban tabrakan. Pemkot dan pemkab juga tidak membuat jembatan penyeberangan orang.

Minggu lalu saya melihat sendiri pejalan kaki ditabrak di Sidoarjo dan Surabaya. Untung tidak mati.

Ganyang Malaysia cuma jargon kosong

Apa saya bilang minggu lalu. Jangan dulu puas timnas sepak bola kita bisa mengalahkan Timor Leste dan Brunei Darussalam dengan skor telak. Pelatih Indra Sjafrie mestinya paham bahwa dua negara itu levelnya jauh di bawah Indonesia.

Indonesia baru dikasih jempol kalau bisa menggasak Malaysia. Sebab sulit mengalahkan Korea Selatan yang langganan Piala Dunia. Kalau bisa mengalahkan Malaysia, apalagi skor besar tiga atau lima gol, baru hebat. Gak juara gak papa... pokoknya tidak boleh kalah sama Malaysia.

Rupanya prinsip pantang kalah sama Malaysia ini dilupakan Indra Sjafrie. Hasilnya babak belur. Kalah telak 1-5. Jelas aja timnas U-19 dimaki-maki di internet. Pelatih Indra dihajar dengan kata-kata kasar kayak brengsek dan sejenisnya. Padahal Indra pernah dipuji setinggi langit ketika membawa timnas U-19 jadi juara Piala AFF di Sidoarjo.

Kemarin dan pagi tadi saya masih membaca kecaman pedas untuk timnas U-19. Alasan Indra sengaja mencoba taktik tidak bisa diterima. Bahkan ada yang menuduh Indra kemungkinan terima suap sehingga mengalah dari Malaysia.

Kalah menang dalam sepak bola itu biasa. Tapi kalah dari Malaysia itu benar-benar menyakitkan. Kita belum lupa di SEA Games Agustus lalu Indonesia disingkirkan Malaysia di semifinal. Padahal pelatihnya Luis Mila asal Spanyol yang terkenal luar biasa.

Beberapa tahun lalu Indonesia juga disingkirkan Malaysia di final Piala AFF. Padahal di laga-laga awal Indonesia main bagus banget. Gocekan coach Alfred Riedl yang berkelas. Kok keok oleh Malaysia di final? Sulit menjelaskannya.

Saya sendiri baru mulai nonton televisi saat duduk di SMP. Di Larantuka NTT. Hitam putih televisinya pakai aki. Ngecas aki di toko kaset paling top di Jalan Niaga milik baba Tionghoa. Sejak itulah saya pelan-pelan tertarik siaran olahraga macam Dari Gelanggang ke Gelanggang, Arena dan Juara, dan siaran langsung sepak bola sesekali di TVRI.

Nah, setiap kali lawan Malaysia, acara nonton bareng puluhan orang (maklum TV sangat langka dan barang mewah saat itu) selalu heboh. Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia! Ganyang itu apa? Pokoknya hajar. Setelah pindah ke Jatim baru saya paham arti kata ganyang itu.

Sayang, timnas era TV hitam putih selalu kesulitan lawan Malaysia. Dihajar si penyerang jiran yang namanya Dollah Saleh. Mungkin suatu saat Indonesia akan menang. Kita ganyang Malaysia. Di sepak bola.

Tahun demi tahun berganti. Timnas sudah bolak-balik dirombak. Pemain-pemain timnas era TV hitam putih sudah jadi pelatih senior semua. Sebut saja Herry Kiswanto, Rudi Keltjes, Hermansyah, yang sempat jadi teman saya saat melatih Persebaya. Dulu saya kagum banget sama Hermansyah, kiper timnas yang nyentrik dan jago.

Tapi begitulah hasilnya....

Di tahun 2017 ini timnas Indonesia masih belum bisa mengalahkan Malaysia. Ganyang Malaysia cuma sekadar jargon kosong.

Eh, pelatih Indra Sjafrie malah memilih ngalah dari Malaysia. Brengsek!!!

03 November 2017

Baru disahkan, mau direvisi

Perppu ormas baru saja disahkan menjadi undang-undang. Eh, belum sampai seminggu sudah muncul usulan untuk merevisi UU itu. Waduh... kepriye iki?

Mungkin Indonesia ini negara paling aneh di dunia. Bikin undang-undang, regulasi, atau apa pun namanya yang tidak bisa tahan lama. Bahkan ada undang-undang yang bisa dibongkar di tengah jalan agar Koalisi Merah Putih bisa menguasai parlemen. Masih ingat?

Apa boleh buat. Indonesia memang negara yang krisis negarawan. Surplus politisi picik. Ada politikus tua macam Amien Rais yang akhir-akhir ini suka unjuk rasa. Padahal Pak Amien sempat jadi ketua MPR. Posisi yang mestinya membuat politisi naik derajat sebagai negarawan.

Apa pun kritik terhadap KUHP, saya salut dengan undang-undang hukum pidana yang dibuat kolonial Belanda itu. Sampai sekarang KUHP masih dipakai polisi, jaksa, hakim, pengacara dsb. KUHP mampu bertahan satu abad lebih.

Indonesia sudah lama berusaha membuat KUHP baru. Agar lebih cocok dengan perkembangan zaman. Agar sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Hasilnya? Sampai sekarang gak jelas nasibnya. Saya ragu anggota DPR dan pemerintah mampu membuat undang-undang yang bisa tahan lama.

Saya jadi ingat istilah lawas banana republic. Republik pisang. Bangsa yang lembek. Tidak punya prinsip. Pragmatis. Partai-partai tidak punya ideologi selain pragmatisme kekuasaan.

Maka, perppu yang sejatinya dibuat untuk merevisi undang-undang ormas pun direvisi lagi. Nanti UU hasil revisi itu direvisi lagi. Habis kita punya energi untuk revisi revisi revisi.

Roti Paulus yang legendaris di Surabaya

Pagi ini saya ketemu Roti Paulus di sebuah warkop kawasan Waru Sidoarjo. Ah... jadi ingat almarhum Ibu Riyati di Ngagel Jaya Selatan Surabaya yang biasa sarapan roti ini. Saya juga selalu kebagian tugas membelikan Roti Paulus di Jalan Dinoyo 154 Surabaya.

"Ojo lali... Roti Paulus lho. Jangan roti yang lain," begitu pesan eyang yang saya menganggap saya keluarga sendiri.

Sejak dulu Roti Paulus memang bermarkas di Dinoyo 154. Tidak jauh dari jembatan BAT yang terkenal itu. Sekarang merek yang ditonjolkan adalah Roti Pioneer. Tapi orang lawas macam eyang yang meninggal pada usia 80 tahun itu adalah Paulus.

Ingat Paulus, ingat roti! Kalau di Flores, ingat Paulus ingat Perjanjian Baru. Rokor gefkol testim tifi: roma korintus galatia efesus kolose tesalonika timotius titus filemon. Ingat pelajaran agama Katolik di kampung halaman ketika SD dan SMP.

Mengapa eyang kok doyan banget Roti Paulus? Enak dan awet, katanya. Juga murah. Bu Yati yang pernah mengalami pendidikan Belanda dan Jepang itu sudah pernah mencoba macam-macam merek roti produksi Surabaya dan kota lain. Tapi tidak ada yang seperti Paulus, katanya.

"Mungkin karena selera saya sudah terbentuk selama puluhan tahun. Jadi, sulit pindah ke merek yang lain," katanya.

Saya memang pernah beberapa kali membawa roti merek baru dari minimarket. Kemasan dan tampilannya lebih cerah dan menggoda. Tapi setelah dicicipi, eyang yang seniman lukis ini kurang puas. "Beli Paulus aja," katanya.

Sejak itulah saya selalu mampir ke markas Roti Paulus di Jalan Dinoyo 154. Membeli roti cadet istimewa yang masih hangat untuk eyang. Saya sendiri suka roti tawar gandum karena teksturnya agak kasar dan tebal. Beda dengan roti tawar merek lain-lain.

Setelah mencoba roti tawar gandum Paulus barulah saya percaya bahwa makan roti itu bisa kenyang. Buang air besar lancar. Karena seratnya masih utuh. Beda dengan roti yang bukan gandum.

Dua minggu lalu saya ngobrol dengan Liauw alias Koh Jiang di kawasan Trawas Mojokerto. Lelaki Tionghoa ini rumahnya di Buduran Sidoarjo. Aha... ternyata Liauw masih famili dengan pemilik Roti Paulus itu.

"Itu sih roti yang berjaya di masa lalu. Sekarang ini masih bertahan tapi kalah bersaing dengan merek baru," ujarnya diplomatis.

Koh Jiang ini rupanya tidak tertarik membahas Roti Paulus. Padahal saya sangat tertarik karena sering makan. "Gak enak dibicarakan karena menyangkut keluarga sendiri," katanya. "Mending kita bahas Prabu Airlangga aja," ujarnya.

Yo wis.