31 October 2017

Orang Jerman tidak main HP

Andri Hakim, mahasiswa Indonesia di Jerman, belum lama ini menulis begini:

"Yang saya perhatikan dari rekan-rekan sejawat peneliti dan aktivis di Jerman. Mereka tidak pernah main HP untuk sosial media sepanjang waktu kerja.

"Mereka tidak bermain HP juga pada saat makan siang. Mereka tidak bermain HP saat mengobrol langsung. Mereka tidak bermain HP juga pada saat rehat sore."

Telepon seluler atau HP memang seperti candu. Magnetnya luar biasa. Orang Indonesia, khususnya di kota-kota, seperti sulit lepas dari HP. Begitu duduk di warkop atau kafe, langsung main HP. Tal ada lagi obrolan basa-basi dengan sesama pengunjung.

Siang tadi, empat murid SMA yang bolos ke kawasan Jolotundo Trawas uring-uringan gara-gara tidak ada sinyal untuk data internet. Komentarnya gak enak didengar. Kelihatan seperti stres hanya karena kehilangan koneksi di WA, Facebook dsb.

Aneh juga orang kota ini. Jauh-jauh ke Jolotundo bukannya untuk rekreasi, wisata alam, menikmati bangunan cagar budaya era Raja Airlangga tapi cari sinyal internet.
Saya jadi ingat obrolan saya dengan Pratiwi, alumnus Pesantren Gontor. Gadis asal Tulangan Sidoarjo ini bercerita di ponpes terkenal itu semua santri dilarang membawa HP. Entah HP lawas yang cuma untuk menelepon dan SMS hingga ponsel pintar atau gawai model apa pun. Jangankan HP, radio, tape recorder.. pun haram hukumnya.

Bagaimana kalau ada santri yang nekat menyelundupkan HP ke dalam pesantren?

"Tidak mungkin bisa," Pratiwi menegaskan. Sebab pemeriksaan barang-barang elektronik di lingkungan pesantren sangat ketat. Bahkan mungkin lebih ketat daripada di penjara. Belum lagi pondok pesantren biasanya punya mekanisme khusus untuk saling memantau sesama santri.

Begitulah. Ponsel, gadget, dsb yang sejatinya punya banyak manfaat kini jadi masalah di mana-mana. Kuncinya kembali ke masing-masing individu. Apakah kita bisa mengendalikan smartphone itu atau justru kita yang dikendalikan oleh HP?

Yang pasti, sudah enam tahun ini saya mengetik (hampir) semua naskah untuk blog ini pakai HP. Sejak ada promo ponsel Huawei dari Tiongkok, kemudian ganti Blackberry, dan sekarang Samsung.

30 October 2017

Sulit membaca novel O sampai tamat

Tidak lama sebelum meninggal dunia, komponis Slamet Abdul Sjukur meminta saya membaca novel O karya Eka Kurniawan. Bagus sekali, katanya. Baca juga Bilangan Fu... kalau belum baca.

Saya pun mampir ke lapak buku bekas di Jalan Semarang Surabaya. Wow, novel kopian (bahasa halus untuk bajakan) banyak banget. Termasuk O karangan Eka Kurniawan. Saya pun membeli bersama Bilangan Fu dan beberapa novel Pramoedya.

Sampai di rumah buku-buku itu tidak langsung dibaca. Beda banget dengan masa ketika belum ada ponsel yang terhubung internet dengan media sosial yang heboh. Saya usahakan nyicil membaca tapi tidak ada yang tamat.

Novel O ini yang paling susah. Tidak sampai 30 menit... buyar. Buku kopian itu kemudian disimpan begitu saja. Berbulan-bulan. Tahunan. Pak Slamet yang doyan buku-buku berat pun meninggal dunia. Saya tak punya semangat untuk menyelesaikan O yang berat itu.

Entah mengapa, pagi tadi saya berniat membaca novel O. Kalau bisa sih sampai tamat. Apalagi sedang libur di kawasan Seloliman, Trawas, yang adem. Di tengah hutan menghijau segar karena baru disiram air hujan beberapa hari lalu.

Ternyata tidak mudah mengembalikan konsentrasi di era digital dan internet ini. Ada saja godaan untuk mengecek ponsel meskipun sinyal lemah. Tapi saya usahakan membaca buku kertas (bukan e-book), majalah, koran, untuk terapi. Meskipun old school, media cetak punya banyak kelebihan dibandingkan media digital. Begitu kata banyak pakar yang selalu dikutip Bre Redana di kolom-kolomnya.

Deo gratias! Di dekat air sumber Kili Suci itu saya bisa melahap banyak halaman. Sekitar 50 persen isi buku yang lebih 400 halaman itu. Terapi baca buku terpaksa distop karena datang mas Sembodo, teman lama, yang kini ikut mengasuh sebuah pesantren baru di Trawas.

Sembodo antusias bercerita tentang kesibukannya ke Jawa Barat untuk melakukan terapi korban narkoba. "Mereka jangan dibilang pasien tapi santri. Kita angkat derajat mereka biar punya kepercayaan diri," ujar orang Mojokerto ini.

Sembodo ini tipikal tukang cerita. Kalau sudah bicara sulit dihentikan. Bisa berjam-jam dia cerita apa saja yang dianggap menarik. Meskipun belum tentu lawan bicaranya suka dengar.

Apa boleh buat.... Novel O yang rada nyeleneh dan surealis ini belum bisa saya selesaikan. Semoga bisa tamat paling lama tiga hari.

29 October 2017

Dengar Ndherek Dewi Maria, Ingat Rosario

Ndherek Dewi Maria jadi lagu penutup misa di Gereja Katolik Salib Suci, Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Minggu (29 Oktober 2017) pagi. Merdu. Kor bapak ibu lansia menyanyikan dengan baik. Organ pengiringnya juga bagus.

Sayang, sebagian besar jemaat sedang berangsur pulang karena Romo Servas Dange SVD sudah kasih berkat penutup dan pengutusan. Maka lagu yang justru paling bagus ini (ketimbang lagu-lagu lain) tidak bisa dinikmati umat. Hanya untuk mengantar umat pulang ke rumah. Mestinya lagu Ndherek Dewi Maria ini dibawakan selepas komuni.

Bukankah sekarang masih Oktober? Bulan Rosario? Kok lagu Maria cuma satu ini? Di ujung ekaristi pula.

Saya pun duduk menikmati lagu devosi berbahasa Jawa itu. Lagu favorit imam-imam senior asli Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jogjakarta. Salah satunya mendiang Monsinyur Hadiwikarta mantan Uskup Surabaya.

Mendengar lagu ini, saya seperti ditegur oleh Bunda Maria. Karena selama Oktober ini, Bulan Rosario, saya sangat jarang berdoa rosario. Mungkin tidak sampai lima kali. Itu pun tidak lengkap 50 Salam Maria.

Ada saja alasan untuk tidak mendaraskan doa paling dasar di lingkungan Katolik itu. Lupa, ngantuk, capek, sibuk, dsb. Padahal rosario lengkap tidak sampai 20 menit. Saya justru kuat menonton sepak bola di TV yang durasinya hampir dua jam.

Mea culpa... mea culpa... mea maxima culpa!

Hidup di Jatim yang katoliknya sangat minoritas ini memang butuh disiplin pribadi ekstra. Sebab tidak akan ada orang yang mengingatkan kita untuk berdoa rosario, ekaristi, doa angelus, novena, aksi puasa dsb dsb.

Beda dengan di NTT, khususnya Flores. Ada saja orang yang ajak kita untuk ikut Kontas Gabungan (doa rosario bersama) plus menyanyikan lagu-lagu devosi sejenis Ndherek Dewi Maria itu.

Romo Thobi Kraeng SVD sudah tiada

Terlalu sering berakhir pekan di luar Surabaya dan Sidoarjo membuat saya kehilangan informasi penting dari Keuskupan Surabaya. Maklum, belakangan saya lebih sering misa di paroki-paroki yang masuk Keuskupan Malang. Sengaja ngadem karena Surabaya sedang panas-panasnya.

Minggu pagi tadi, 29 Oktober 2017, saya ikut ekaristi di Gereja Salib Suci, Wisma Tropodo, Sidoarjo. Yang pimpin misa Romo Servas Dange SVD asal Flores. Pastor ini membacakan intensi misa. Salah satunya untuk ketenteraman jiwa Romo Thobi Kraeng SVD yang meninggal dunia 40 hari lalu.

Oh... Tuhan Allah! Pater Thobi ternyata sudah selesai tugasnya di dunia. Kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Saya pun terpekur mengenang romo asal Lembata NTT ini. Romo murah senyum yang sempat saya kira berasal dari Manggarai karena namanya ada Kraeng. Pater Thobi Muda Kraeng SVD. Sampai ada beberapa pembaca blog ini yang kasih koreksi bahwa Romo Thobi itu asli Lembata. Sama dengan saya.

Meskipun sama-sama asal Lembata, dan tinggal di Surabaya, kita sulit ngobrol lama dengan Pater Thobi. Juga pater-pater lain. Maklum, Pater Thobi ini konsultan keluarga di Keuskupan Surabaya yang tamunya sangat banyak. Tamu-tamu antre di kantornya di belakang Gereja Katedral HKY Surabaya.

Malu kalau kita ngobrol lama dengan Pater Thobi yang sudah jadi milik umat Katolik. Bukan lagi milik orang Lembata, Flores, atau NTT. Ini pula yang menyebabkan hubungan orang NTT, yang bukan romo, dengan para romo atau suster asal NTT tidak bisa terlalu dekat.

"Romo Thobi itu konsultan keluarga yang luar biasa. Jarang ada pastor yang punya kebijaksaan dan pemahaman seperti beliau," ujar Ibu Joice yang juga staf di Komisi Keluarga Keuskupan Surabaya.

Namanya juga masalah keluarga, ada beragam keluhan yang disampaikan umat. Ada orang muda yang mau menikah tapi pasangannya beda agama (disparitas cultus). Ada yang beda gereja kayak Katolik dengan Protestan (Pentakosta, Karismatik dsb). Ada yang telanjur hamil di luar nikah. Macam-macam.

Saya perhatikan, saat ngobrol santai di ruangnya Bu Joice, tetangganya Romo Thobi, satu per satu keluar dengan senyum. Enteng. Ibarat domba yang dituntun gembala baik ke padang rumput hijau.

Saya pun tidak pernah dengar kata-kata negatif tentang Romo Thobi. Juga tidak pernah dengar kalau Romo Thobi sakit berat atau dirawat di rumah sakit.

Maka, saya kaget nian ketika Romo Servas menyebut intensi misa untuk 40 hari meninggalnya Romo Thobi Kraeng SVD. Saya hanya bisa berdoa semoga pater yang ramah ini berbahagia bersama Bapa di surga. Amin!

Requiem... aeternam.

23 October 2017

Negara ateis kok lebih maju

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan selalu bikin kejutan dengan joke yang menggelitik. Seperti dimuat Jawa Pos pagi ini. Dalam sebuah acara peluncuran buku di Surabaya, Pak Bos mengungkap tantangan Indonesia (mayoritas Islam, semua penduduk wajib beragama) untuk menjadi negara yang makmur.

Dahlan Iskan:

"Indonesia yang bertuhan satu sedang mendapat tantangan dari bangsa yang tidak bertuhan (Tiongkok) dan yang bertuhan banyak (India). Tiongkok yang tidak bertuhan maju sekali.... Ekonomi India sangat maju sejak menghapus swadeshi alias berdikari. Pertumbuhan ekonomi India mencapai 7 persen.

Lantas, kita harus bagaimana? Apakah negara yang bertuhan hanya satu bisa berkompetisi dengan negara yang bertuhan banyak atau tidak bertuhan?"

Hadirin tepuk tangan dan tertawa.

Di forum hari santri ini Pak Dahlan tentu tidak membahas masalah teologi. Monoteisme. Ateisme. Politeisme. Pak Dahlan yang baru kembali dari Tiongkok hanya ingin mengajak peserta seminar (orang Indonesia) untuk kerja kerja kerja.... Agar bisa maju seperti Tiongkok atau India.

Indonesia yang rakyatnya beragama, mayoritas Islam, mestinya bisa lebih maju ketimbang India yang tuhannya banyak atau Tiongkok yang tidak bertuhan. Sebab agama punya daya dorong yang luar biasa bagi pemeluknya. Kok kita kalah sama Tiongkok yang ateis dan komunis?

Ironisnya lagi, di negara bertuhan ini, tingkat korupsi begitu tinggi. Pejabat-pejabat pusat dan daerah bolak-balik dicokok KPK karena nyolong duit rakyat. Bahkan anggaran untuk pengadaan kitab suci hingga urusan ibadah seperti haji pun ditilep. Sekarang lagi heboh uangnya jamaah umrah First Travel diembat si pengusaha yang penampilannya sangat alim.

Lalu, apa yang salah di Indonesia? Bangsa yang selalu bangga dengan agama dan ketuhanannya itu? Saya khawatir lama-lama agama jadi bahan tertawaan di negeri panda.

20 October 2017

Pelukis Sidoarjo Ikut PSLI 2017

Sedikitnya 10 pelukis asal Kabupaten Sidoarjo berpartisipasi dalam Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2017. Mereka menyertakan karya-karya terbaru yang ramah pasar di ajang tahunan untuk memeriahkan hari jadi Provinsi Jawa Timur itu.
Para pelukis Kota Delta yang ambil bagian di PSLI 2017 antara lain M Nasrudin, M Cholis, Bambang Tri, Wiji Sayid, Andris, Daniel De Quelyu, Bangun Asmoro, dan Wadji Iwak.

"PSLI ini jadi ajang silaturahmi dengan para pelukis dari berbagai kota di Indonesia. Kita juga bisa diskusi dan berbagi informasi tentang perkembangan seni lukis di tanah air," ujar Wadji Iwak kepada saya, Jumat 20 Oktober 2017 di Gedung JX International Jalan Ahmad Yani 99 Surabaya.

Pelukis senior asal Desa Bangsri, Sukodono, ini boleh dikata melupakan pelanggan tetap pasar seni lukis. Wadji Iwak seperti biasa menampilkan lukisan-lukisan-lukisan dengan tema ikan. Mulai ikan koi, arwana, hingga ikan bakar yang siap disajikan di meja makan.

"Sudah puluhan tahun saya melukis. Makanya, saya sudah dikenal dengan lukisan ikan. Bukan berarti saya tidak membuat lukisan-lukisan lain yang objeknya bukan ikan," ujar pelukis bernama asli Wadji Martha Saputra ini.

Sesuai nama event, pasar seni lukis, menurut Wadji, para pelukis yang datang dari Surabaya, Sidoarjo, Banyuwangi, Gresik, Jombang, Kediri, Jakarta, Bandung, Bali, Magelang, dan kota-kota lain ini mengusung lukisan yang ramah pasar. Lukisan yang mudah diapresiasi oleh masyarakat. Khususnya kolektor lukisan. "Makanya, lukisan ikan yang saya tampilkan di sini kelihatan indah dan realis. Itu yang disukai orang banyak," tuturnya.

Meski begitu, Wadji tetap menyisipkan beberapa lukisan ikan yang cenderung abstrak dan rumit di stannya. Lukisan seperti ini dianggap mencerminkan isi hati dan idealismenya sebagai seniman. "Seorang pelukis harus bisa pandai-pandai menyiasati situasi ini agar bisa hidup dari kesenian. Kalau cuma menuruti idealisme saja, ya lukisannya sulit laku. Mau makan apa kita?" tuturnya.

Di ajang pasar seni lukis yang berlangsung selama 10 hari ini, Wadji mengaku senang karena beberapa lukisan ikannya sudah diserap pasar. Harganya? "Wah, kalau itu masih dalam proses negosiasi," ujar seniman yang juga kolektor benda-benda pusakan seperti keris bertuah itu.

Kisruh angkutan online vs konvensional

Sejak ojek dan taksi online beroperasi di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota besar lain, saya sudah duga bakal terjadi gejolak. Taksi-taksi lama, angkot, dan kendaraan umum lain pasti ngamuk. Sebab pasar mereka dikeruk habis.

Benar saja. Masyarakat rame-rame lari ke daring (online) karena mudah diakses. Lewat ponsel. Ojek atau taksi online itu datang jemput di mana saja. Tepat waktu. Sebab angkutan online ini tersedia di berbagai titik. Beda dengan taksi biasa yang hanya mangkal di beberapa titik terbatas.

Jauh sebelum ada taksi atau ojek online, sistem transportasi macam ini sudah jamak di luar Jawa. Khususnya Indonesia bagian timur seperti NTT. Di kampung halaman saya itu (hampir) semua mobil pribadi atau sepeda motor dijadikan angkutan umum. Kita cukup menelepon atau kirim SMS ke nomor tukang ojek atau pemilik mobil pribadi.

Biasanya setiap rumah di Kupang ada nomor-nomor ojek dan pemilik kendaraan pribadi yang bisa dikontak setiap saat. Langganan saya namanya Bapa Anton. Kalau mau ke Bandara Eltari Kupang pukul 05.00 ya pakai jasa bapak ini. Atau pakai ojek seorang nyong asal Timor.

Tidak pakai aplikasi atau internet karena (saat itu) belum ada. Cukup telepon rumah atau HP. Mengapa tidak pakai taksi resmi? Tidak ada. Di ibu kota NTT itu hanya ada beberapa unit taksi milik koperasi TNI AU. Tapi sulit diajak mengantar penumpang ke tempat yang jauh. Saya malah pernah diturunkan di jalan oleh sopir brengsek. Bukti bahwa budaya tolong-menolong dan empati orang NTT (sama-sama pribumi) sudah luntur.

Kembali ke Surabaya atau Jakarta. Di Jawa taksi dan angkutan umum banyak. Mereka punya armada yang cukup. Harus izin macam-macam. Modal raksasa. Karena itu, menggunakan kendaraan pribadi untuk angkut penumpang jelas pelanggaran. Yang boleh angkut penumpang ya plat kuning. Plat hitam haram bawa penumpang... kecuali di NTT.

Ketika angkutan aplikasi booming, maka hancurkan undang-undang dan peraturan lainnya. Ugal-ugalan. Sepeda motor angkut penumpang. Mobil pribadi plat hitam bawa penumpang. Padahal pemerintah daerah dari dulu aktif kampanye agar rakyatnya naik angkot atau bus kota.

Taksi dan ojek aplikasi datang membawa paradigma yang jauh berbeda. Yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Go-Jek atau Uber bukan perusahaan transportasi tapi seakan-akan punya jutaan unit kendaraan. Tidak sampai dua tahun kekayaan Go-Go-Jek atau Uber melebihi bos-bos taksi yang sudah berusaha selama 30 tahun atau 50 tahun.

Masyarakat sendiri (mayoritas) justru senang dengan angkutan online. Gak mau tau aturan plat hitam, kuning, dsb. Pokoknya cepat, nyaman, murah pula. Maka pelanggaran undang-undang yang dilakukan pihak online dapat pembenaran. Aturan apa pun kalau dilanggar bareng-bareng, pemerintahnya yang bingung. Beda kalau Anda sendiri yang menerobos lampu merah di jalan.

Begitu banyak argumentasi untuk membenarkan angkutan online. Ada yang menyamakan angkutan online dengan koran atau situs berita online. Dua-duanya bisa tetap jalan. Meskipun berita online sudah menggerus pembaca koran cetak.

Argumentasi ini kelihatan logis tapi ngawur. Koran atau situs berita online memang dibuat untuk dibaca di komputer, ponsel atau gawai yang lain. Sebaliknya, orang tetap harus naik mobil atau motor biasa untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mustahil orang duduk di kamar, masuk situs taksi online... lalu sampai ke tujuan.

Karena itu, pemerintah sebagai regulator kudu membuat aturan yang pas untuk melindungi taksi, angkot, atau bus kota yang sudah ada. Ojek juga diatur? Ojek ini sebenarnya tidak termasuk angkutan umum. Ojek boleh beroperasi karena tidak ada kendaraan umum roda empat atau lebih... kayak di NTT.

Di sisi lain, revolusi digital, internet, telah menjungkirbalikkan tatanan lama. Di segala bidang. Mau tidak mau... suka tidak suka... harus dihadapi.

17 October 2017

Retorika Pribumi Anies Baswedan

Anies Baswedan baru saja dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta. Bekas menteri pendidikan ini langsung menohok dalam pidato pertamanya. Dengan retorika khas politisi, Anies mengangkat isu pribumi vs nonpribumi.

Anies: "Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh tapi di Jakarta bagi orang Jakarta yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari."

"Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ucapnya.

Pribumi itu siapa? Orang Betawi asli? Penduduk yang leluhurnya sudah tinggal di Jakarta sebelum Indonesia merdeka?

Isu pribumi vs pendatang ini sangat sensitif di Indonesia. Sebab rezim Orde Baru mengartikan nonpribumi sebagai warga keturunan Tionghoa. Meskipun sudah enam tujuh generasi di nusantara, orba masih menganggap orang Tionghoa sebagai nonpri. Karena itu, mereka perlu membuktikan kewarganegaraan dengan SBKRI.

Warga keturunan Arab, seperti Anies Baswedan, tidak dianggap nonpribumi. Tidak dianggap pendatang. Padahal pemerintah Hindia Belanda memasukan keturunan Arab sebagai Timur Asing. Bukan pribumi. Anies yang doktor pasti paham banget klasifikasi ala kolonial itu.

Bicara pribumi vs nonpribumi (pendatang) saat ini pasti tidak sesederhana di era 1930an. Batasannya jelas. Mengikuti pembagian masyarakat ala Hindia Belanda.

Lah, sekarang bisakah Anies membuat kriteria warga pribumi itu? Siapakah yang berhak disebut pribumi di Jakarta? Asli Betawi? Yang leluhurnya sudah tinggal di Jakarta sebelum NKRI lahir? Bagaimana dengan orang Tionghoa yang leluhurnya lahir di Jakarta tapi baru resmi jadi WNI tahun 1960an?

Penduduk Jakarta tahun ini tentu sudah berbeda komposisinya dengan tahun 1945. Mungkin yang asli tidak sampai 30 persen. Sebagian besar justru pendatang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jogja, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua... seluruh Indonesia.

Jakarta itu ibarat melting pot. Semuanya kumpul di situ. Maka membicarakan isu pribumi vs pendatang di Jakarta di era globalisasi ini jelas kontraproduktif. Definisinya tidak jelas. Anies lupa bahwa dirinya juga bukan pribumi karena keturunan Arab.

Yang ingin ditekankan Gubernur Anies di hari pertamanya (mungkin) keberpihakannya pada rakyat. Dia ingin mengingatkan para investor, korporasi (asing atau tempatan), untuk tidak coba-coba mendikte pemerintah Jakarta. Kapitalisme harus dihentikan.

Maka reklamasi laut ditolak Anies sejak kampanye lalu karena dianggap membuat nelayan sengsara. Rakyat menderita. Yang makmur tetap saja investor alias kapitalis properti raksasa.

Rupanya Anies ingin mewujudkan program populisnya seperti saat kampanye lalu. Sekaligus pemanasan jelang 2019.

Taiso dan Senam Pagi Indonesia

Belum lama ini saya melihat orang Jepang (plus belasan orang Indonesia) melakukan senam pagi bersama. Senamnya ringan saja. Beda dengan senam-senam aerobik di arena car free day Minggu pagi.

Aha... ini yang dinamakan taiso. Jadi ingat pelajaran orkes (olahraga dan kesehatan) zaman SMP dulu di Larantuka. Kita hafal taiso tapi tidak pernah lihat gerakan-gerakan senam masal ala Nippon. "Dulu senam taiso dilakukan tiap pagi," ujar Mbah Siti (alm) yang sangat suka taiso.

Gerakan-gerakan taiso sangat sederhana. Tidak berat. Siapa pun bisa mengikuti meskipun belum pernah belajar sebelumnya. Beda dengan senam poco-poco olahraga versi 2016 yang sangat sulit itu.

Syukurlah, sekarang ada Youtube. Saya pun mencari taiso di internet. Banyak banget videonya. Tapi gerakan-gerakannya sama. Ada dua versi taiso. Versi 1 yang gampang dan lebih populer. Cuma tiga menit saja.

Hebatnya, taiso ini dipraktikkan di Jepang sejak 1928. Radio NHK tiap pagi dan sore putar musik pengiringnya, pakai piano, kemudian orang Jepang ramai-ramai melakukan senam ringan ini. Di sekolah, kantor, pabrik... di mana saja. Sampai sekarang!

Melihat taiso di Youtube beberapa kali, saya jadi teringat senam pagi Indonesia (SPI) dan senam kesegaran jasmani (SKJ). Kedua macam senam ini diwajibkan di zaman orde baru. Senam hafalan anak-anak sekolah seperti saya.

SPI punya empat versi: seri A, B, C, D. SKJ yang mengganti SPI juga ada tiga versi. Saya cuma hafal SPI seri D dan SKJ versi paling awal. Sebab kedua versi itu selalu kami lakukan di halaman sekolah dekat pantai itu. Baik dengan iringan musik maupun kosongan.

Dari enam versi senam masal ala Indonesia, menurut saya, SPI seri D yang paling dekat taiso. Musiknya pakai piano. Gerakan-gerakannya sederhana. Teratur. Mudah diikuti. Saya yakin pencipta SPI mengadopsi senam taiso ala Jepang itu.

Sayang, senam masal ala Indonesia tidak pernah bertahan lama. Orang Indonesia sepertinya cepat bosan. Selalu berusaha untuk mencari yang baru. Meskipun senam-senam baru itu tidak lebih bagus ketimbang senam lama.

''Bosan kalau cuma itu-itu aja gerakannya," kata Mbak Rida instruktur senam aerobik di arena CFD Sidoarjo. "Saya sudah buat beberapa versi senam Nusantara. Senam Maumere perlu ada pengganti biar tidak bosan," kata Pak Rusman instruktur senam Maumere di Sidoarjo.

Itulah bedanya taiso dengan senam-senam lain di Indonesia. Orang Jepang sudah tidak bisa dilepaskan dari taiso. Dari generasi ke generasi. Taiso ibarat ritual rutin setiap pagi untuk menjaga kebugaran tubuh masyarakat. Bahkan, para ekspatriat Jepang tetap memainkan taiso di negara mana pun.

Saya pun mencoba mengingat-ingat senam pagi seri D yang dulu diajarkan Bapa Gaspar, penilik olahraga di kecamatanku. Ternyata masih bisa meskipun tidak sempurna. Untung orang Indonesia ini baik hati. Mereka menayangkan rekaman senam lawas dari TVRI itu ke Youtube. Senam pagi sebelum nonton bareng Si Unyil.

16 October 2017

Ampun! Panaaas! 41 Celcius!

Panas? Ampun!

Begitu antara lain judul berita di Jawa Pos edisi Minggu 15 Oktober 2017. Tentang balap sepeda GFJP Suramadu 2017 dengan peserta terbanyak di Indonesia. Medannya rata, tapi panasnya yang luar biasa.

Koran itu menulis cuaca di Madura saat balapan itu di kisaran 39,7 derajat celcius. Suhu sempat menembus 41 derajat celcius saat memasuki kawasan wisata tambang kapur Bukit Jaddih di Kecamatan Socah Bangkalan.

Wow... 41 derajat celcius! Itu panas yang sangat terik. Membakar di tengah hari. Kalau tubuh tidak kuat, kurang minum, bisa semaput.

Suhu di Madura sebetulnya tak jauh berbeda dengan Surabaya. Kalaupun ada selisih, sangat tipis. Beda satu derajat lah.

Tidak heran masyarakat Surabaya dan Sidoarjo sejak tiga pekan ini mengeluhkan suhu yang menyengat. Siang panas ekstrem, malam pun gerah nian.

Saya sendiri sulit tidur sejak 10 hari terakhir. Selalu terbangun pukul 01.00 lebih sedikit. Lalu langsung mengguyur tubuh dengan air yang tidak sejuk. Badan tetap saja tidak bisa didinginkan.

Musim kemarau sedang di puncak teriknya. Sebab posisi matahari di atas Surabaya dan wilayah lain yang koordinatnya sama. Sang Surya lagi bergerak ke selatan. Untuk memanggil sang hujan.

Maka, saya pun minggat ke kawasan Trawas. Tepatnya Desa Seloliman yang dekat situs pemandian Jolotundo itu. Membunuh panas terik dari Sidoarjo.

Benar saja. Tidak sampai tujuh menit saya bisa tidur pulas. Makin lama makin dingin. Sekitar 20 derajat celcius. Di tengah udara segar yang dihasilkan pohon-pohon di tanah milik Perhutani itu. Nikmat banget!

Ternyata bukan cuma saya yang ngalih ke kaki Gunung Penanggungan. Mas Hari, Mas Samsul, dan beberapa orang Surabaya yang lain bahkan sudah lama memilih ngadem di Trawas.

Pak Gatot yang pensiunan panitera PN Sidoarjo malah sudah punya vila khusus di daerah Biting. Heri Biola, seniman musik dan guru, yang dulu punya sanggar di Sawotratap Gedangan Sidoarjo juga tinggal di Trawas yang sejuk. "Saya tetap kerja di Sidoarjo. Tapi tinggal saya istri di sini," ujar Heri yang asli Krembung.

Pantesan... jalan raya dari arah Ngoro ke Trawas didominasi kendaraan bermotor plat L (Surabaya) dan W (Sidoarjo).

Semoga hujan segera turun.

Satlak Prima Layak Dibubarkan

Indonesia gagal total di SEA Games 2017 di Malaysia Agustus lalu. Cuma peringkat kelima dari 11 negara. Perolehan medali emas Indonesia jauh di bawah Malaysia yang juara umum. Indonesia pun kalah jauh dengan Singapura yang penduduknya tidak lebih banyak dari Kabupaten Sidoarjo.

Hasil SEA Games ini terburuk dalam sejarah. Saya pun langsung mengirim pesan WA ke kemenpora. Kecewa berat. Sekaligus kritik soal birokrasi olahraga yang panjang. Bagaimana bisa dapat emas kalau peralatan sejumlah cabang olahraga terlambat dikirim? Dana belum cair? Koordinasi tidak jalan?

Semua ini tentu tanggung jawab pemerintah. Kemenpora. Di bawahnya lagi ya satlak prima. Sejak awal satlak tidak jalan. Bahkan sekadar menganalisis kekuatan lawan pun gagal. Target medali meleset jauh. Buat apa ada satlak prima? Begitu antara lain curhat saya ke kemenpora.

Saya sebetulnya berharap pengurus satlak prima mundur setelah SEA Games. Lah, gagal total kok masih bertahan! Saya tunggu-tunggu kok tidak ada yang mundur. Achmad Sucipto ketua satlak prima cuma kasih penjelasan yang normatif. Padahal saya sih ingin pensiunan tentara ini mundur.

Di olahraga itu ukuran keberhasilan atlet sangat jelas. Tidak abu-abu kayak di politik atau pemerintahan. Bayern gagal ya pelatih Ancelotti dipecat... karena tidak mundur sendiri. Mourinho dulu juga dipecat Chelsea. Banyak banget pelatih yang diputus kontraknya karena gagal mempersembahkan kemenangan.

Daripada dipecat lebih baik mundur sendiri. Itu yang ditunjukkan pelatih timnas USA dan Cile pekan lalu. Kasih kesempatan pelatih lain. Ciptakan suasana baru.

Nah, rupanya Achmad Sucipto belum paham tradisi itu. Gagal total di SEA Games tapi tidak mundur. Malah banyak bicara di koran dan televisi.

Syukurlah, kemenpora ternyata membuat gebrakan di luar bayangan saya. Bukannya memecat Sucipto, kemenpora justru membubarkan satlak prima. Luar biasa! Langkah yang sangat tepat. Memotong jalur birokrasi olahraga yang kontraproduktif.

Sucipto akhirnya bicara. "Silakan ganti saya. Tapi jangan bubarkan satlak prima," katanya. Alasannya blablabla....

Syukurlah, banyak pengurus besar olahraga yang mendukung gebrakan pemerintah. Salah satunya Brigjen Pol Johny Asadoma, ketua PB Pertina, yang tak lain mantan petinju amatir terbaik Indonesia asal NTT. Dulu Bung Johny tampil di Olimpiade 1984 di Los Angeles. Gagal dapat medali tapi penampilan Johny saat itu sangat meyakinkan.

"Dulu tidak ada satlak prima, tapi petinju-petinju Indonesia berjaya di Asian Games,'' ujar Bung Johny sembari menyebut nama-nama petinju top masa lalu. Namanya sendiri tidak disebut. Hehe....

Apakah pembubaran satlak prima bisa menyelesaikan masalah? Bisa membuat Indonesia berprestasi di Asia? Setidaknya juara atau nomor dua di SEA Games? Tidak bisa instan begitu. Tapi setidaknya rantai birokrasi jadi lebih sederhana.

Pemerintah pusat cukup koordinasi dengan KONI dan pengurus besar (PB) semua cabang olahraga. Tidak perlu lewat satlak atau lembaga sejenis yang terbukti tidak efektif.

Di masa Orde Baru hanya KONI yang menjadi satu-satunya induk semua olahraga. KONI yang mengatur semuanya. Termasuk koordinasi dengan semua PB. Dan hasilnya luar biasa. Indonesia selalu juara umum SEA Games. Indonesia jauh di atas negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Filipina. Apalagi dengan negara-negara-negara yang dulu bergolak kayak Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar.

Anies dilantik, Ahok dipenjara

Anies dan Sandi resmi jadi gubernur DKI Jakarta beberapa menit lalu. Para pendukungnya tentu saja gembira ria. Mereka larut dalam joget Maumere. Begitu yang ditulis media daring seperti kompas.com.

Melihat senyuman Anies dan Sandiaga di televisi, saya jadi ingat Ahok. Mantan gubernur ini sedang menjalani hukuman penjara selama dua tahun. Buah dari geger politisasi agama yang masif di Jakarta.

Gara-gara politik SARA itulah, dengan unjuk rasa berjilid-jilid, mulai 212 dan seterusnya... Ahok akhirnya kalah di pilgub. Sudah kalah, masuk penjara pula. Maka reputasi Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama yang tegas dalam menata ibukota pun seakan tergerus.

Karena itu, wajarlah jika warga Jakarta penduduk Ahok tidak mudah melupakan Tamasya Almaidah dan berbagai jargon politisasi agama yang mengantar Ahok ke pintu penjara. Sulit move on. Sulit melupakan kekalahan politik di pilkada kemarin.

Djarot, gubernur pengganti Ahok, pun memilih berwisata ke NTT. Tepatnya di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores. Melepaskan beban berat setelah melayani warga Jakarta hingga 15 Oktober 2015. "Saya sekarang warga biasa," kata mantan wali kota Blitar itu.

Saya kenal Djarot ketika masih menjadi anggota DPRD Jawa Timur di Surabaya. Orangnya demokratis. Berjiwa besar. Punya pemikiran yang konseptual. Beda dengan kebanyakan anggota dewan yang mirip karyawan perusahaan. Djarot punya pengalaman panjang di pemerintahan sejak awal reformasi.

Lantas, mengapa Djarot tidak mau menghadiri pelantikan Anies dan Sandiaga? Ya... itu tadi, proses pilkada Jakarta memang terlalu panas dengan politisasi agama. Yang membuat seorang Ahok harus masuk penjara.

Kondisi ini membuat start awal Anies dan Sandi menjadi tidak asyik. Gubernur Anies sepertinya tidak punya masa bulan madu seperti pejabat-pejabat baru lainnya.

Bagaimana bisa bulan madu kalau gubernur lama lagi disekap di ruang tahanan brimob? Bagaimana bisa bulan madu kalau pendukungnya masih menulis komentar-komentar SARA di media sosial?

"Ngapain Djarot ke NTT yang mayoritas kafir?" begitu salah satu komentar yang saya baca di kompas.com beberapa menit lalu.

09 October 2017

Makin NGINGGRIS di Bulan Bahasa

''Berbicara tentang bahasa, may be I am the one who love learning language so much. For me, language is amazing and have its uniqueness which differentiates from one to another. Padahal aku lulusan Industrial Engineering yang banyak bicara masalah bagaimana pemecahan suatu problem dalam dunia industri....''

Itulah kutipan tulisan Abdul Basyir yang membahas bahasa Osing khas Banyuwangi. Itu baru alinea pertama. Kalau anda ikuti sampai selesai, amboi... gado-gado English-English-nya luar biasa.

Membaca tulisan ini, ketika iseng cari Osing di google, saya pun teringat bulan bahasa. Setiap Oktober adalah Bulan Bahasa Indonesia. Kebetulan hampir tiap hari saya lewat di depan kantor Balai Bahasa Surabaya yang terletak di Siwalanpanji Buduran Sidoarjo.

Saya juga ingat Pak Amir Mahmud, kepala Balai Bahasa, yang baru pensiun. Ia selalu menekankan pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar. ''Wartawan seharusnya ikut membantu sosialisasi bahasa Indonesia yang baik dan benar,'' katanya.

Bahasa Inggris tidak penting? Pasti sangat penting. Sebab English sudah lama jadi bahasa internasional yang paling luas penggunaannya. Bukan Mandarin, Arab, Spanyol, atau Prancis. Tapi gunakanlah English sesuai dengan konteksnya.

Alangkah bagusnya jika Abdul Basyir menulis artikel Osing itu dalam bahasa Inggris yang utuh. Seratus persen English. Jangan setengah-setengah! Jangan English 30 persen seperti di artikel itu. Toh, pembaca artikel itu orang Indonesia juga.

Bahasa gado-gado seperti itu namanya NGINGGRIS. Begitu kritik Remy Sylado, sastrawan dan musisi yang menguasai belasan bahasa asing. Remy sendiri tidak main oplos bahasa kayak Basyir itu. Nginggris ini penyakit rendah diri khas bangsa yang terlalu lama dijajah.

Dengan NGINGGRIS, campur-campur bahasa Indonesia, orang itu merasa hebat nian. Pamer kemampuan bahasa Inggris. Kelihatan seperti orang kota metropolitan ala London atau New York.

Bulan Bahasa 2017 ini belum bergema di Sidoarjo dan Surabaya. Di sekitar Balai Bahasa juga tidak ada greget kalau bulan ini bulan khusus untuk memuliakan bahasa Indonesia. Beberapa mahasiswa yang saya tanya bahkan tidak tahu ada bulan bahasa. Tahunya malah bulan Suro.

Sementara itu, NGINGGRIS saat ini dirayakan di media sosial. Juga iklan-iklan di ruang publik. Orang Indonesia tidak merasa bahwa NGINGGRIS itu sejenis penyakit jiwa. Semakin NGINGGRIS semakin hebat. Kayak si Vicky Prasetyo itu.

08 October 2017

Melihat wanita yang kesurupan

Semalam suntuk ada seorang wanita muda kerasukan di kawasan Jolotundo Trawas. Berkali-kali orang itu histeris. Meronta-ronta. Bicara ngalor ngidul gak karuan.

''Saya ini Putri Cempo,'' ujarnya dalam bahasa Jawa ngoko.

Dua pria berbadan besar memegang tubuh wanita kurus seksi itu. Yang pakai baju merah merapalkan ayat-ayat suci. Mbak Khasanah menaburkan garam dapur ke tubuh sang wanita. Biar cepat keluar, katanya.

Karuan saja banyak wisatawan di Jolotundo - kebetulan purnama dan bulan Suro - ramai-ramai menonton pemandangan langka itu. Mas yang dari Surabaya, dengan logat Madura, terus berusaha menjinakkan si pengganggu itu.

''Wong ayu... mohon keluar. Jangan ganggu anak ini. Kasihan dia masih punya anak kecil di rumah,'' pinta mas berbadan subur itu.

''Nggak mau... nggak mau... nggak mauuuuu....'' teriak wanita itu dengan suara nyaring. Suara orang lain alias dhemit itu.

Saya yang sempat tidur pulas pun terbangun. Kaget tapi juga takjub dengan kenyataan itu. Maklum, sudah lamaaa banget tidak melihat sendiri orang kesurupan alias kerasukan setan.

Setelah dirayu cukup lama, wanita dua anak itu akhirnya siuman. Tidak lagi jerit-jerit. Suami (atau pacarnya?) dan beberapa teman mengajak pulang. Naik sepeda motor.

Eh... ketika hendak duduk di jok, wanita itu langsung berlari kencang. Cepat sekali kayak sprinter profesional. Turunan. Kontan saja sang suami dan teman-temannya kalang kabut. Lalu berusaha mengejar. Ada yang menyusul pakai motor.

Akhirnya si perempuan itu ambruk. Dibopong ke tempat semula di dekat gazebo tempat tidur saya. Mas Madura itu kembali bertugas menangani sang pasien. ''Serangannya hebat. Tunggu saja setelah subuh insyaallah akan hilang,'' katanya.

Wong ayu itu masih menjerit dan ngomong ngaco tapi tidak seheboh sebelumnya. Apa boleh buat, rombongan dari Mojokerto itu pun harus sabar menunggu sampai subuh. ''Rupanya wanita itu ingin punya ilmu tapi gak kuat. Dia kurang pasrah kepada Allah,'' kata mas yang telaten itu.

Orang beriman, apa pun agamanya, menurut mas itu, hendaknya tidak neko-neko. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Tidak usah pakai dukun, klenik, pesugihan, penglaris dsb. Sebab efeknya akan panjang.

Akhirnya... subuh pun tiba. Benar saja. Wanita itu siuman kembali. Biasa-biasa saja. Dia tidak tahu bahwa selama hampir empat jam dia kerasukan dhemit dan jadi tontonan orang banyak.

''Orang kalau punya pegangan sebaiknya tidak tidur di atas jam 12 sampai subuh. Bahaya kalau ada serangan,'' kata mas yang tinggal di kawasan Ampel Surabaya itu.

Mata saya makin berat. Giliran saya tertidur pulas di kawasan hutan yang sejuk segar itu.

06 October 2017

Ricker Winsor Bule USA Betah di Surabaya



Biasanya orang Indonesia yang kerasan di Amerika Serikat (USA). Tapi Ricker Winsor ini sebaliknya. Bapak tua ini justru betah tinggal di Indonesia. Termasuk di Surabaya yang panas itu.

Hampir setiap hari Ricker, 72 tahun, mendatangi lokasi tertentu untuk menggambar pemandangan. On the spot. Tak peduli panas, seniman ini asyik membuat sketsa. Pekan lalu suami Jovita Maryana, asal Surabaya, ini melukis di kawasan Kenjeran. Tidak jauh dari pagoda kompleks Pantai Ria.

Di tempat yang ditumbuhi tanaman liar itu Ricker dengan tekun menggambar. Cuek dengan panas terik di atas 35 celcius. Jarang sekali pelukis-pelukis lokal yang berburu di tengah panas macam ini. Biasanya melukis bareng untuk event tertentu saja.

Nah, Ricker ini selalu bermain seorang diri. Biasanya ditemani istri atau kenalannya sebagai pemandu. ''Saya bikin sketsa dulu baru dilanjutkan di rumah,'' kata pria yang sudah 45 tahun menggeluti seni rupa itu.

Garis-garis sketsa Ricker terlihat tebal dan tegas. Sekilas mirip gambar yang dibuat anak-anak sekolah di Indonesia tempo dulu. Sederhana. Tidak banyak polesan. Justru di situlah kekhasan pria yang sudah cukup fasih berbahasa Indonesia ini.

Akhir Agustus 2016, Ricker Winsor menggelar pameran lukisan bertajuk Retrospective 45 Years di Surabaya. Ada 23 karya Ricker hasil berburu di berbagai negara. Lukisan-lukisan itu ibarat jurnal atau catatan harian sang seniman yang senang berkelana di berbagai belahan dunia.

Di usianya yang kian senja, Rick rupanya makin kerasan saja di Indonesia. Tempat-tempat yang bagi kita biasa-biasa saja, bahkan kita anggap jelek, di mata Rick justru sangat eksotis. Seperti semak belukar yang liar di Kenjeran itu. Rick tambah semangat karena teman-temannya di media sosial juga terkagum-terkagum-kagum dengan pemandangan di Kenjeran.

Karen Eldred-Stephan menulis :

''Umm, I MUST ask, is that the oriental Disney World on the horizon?

But seriously Ricker, the photo is beautiful. And it shows just how exactly you've nailed it in your drawings of this kind of landscape. Van Gogh at Arles. indeed! Great work.''

Bapak Rick pun seperti dapat doping untuk terus melukis pemandangan di NKRI. Melukis ibarat terapi jiwa dan raga.

Via Vallen Syukuran HUT 26 di Sidoarjo



Via Vallen baru saja pulang kampung. Merayakan ulang tahun ke-26 di Kalitengah Tanggulangin Sidoarjo. Kali ini penyanyi dangdut koplo yang sedang ngetop ini mengundang anak yatim dari beberapa pesantren.

''Alhamdulillah, jadwal manggung lebih longgar sehingga saya bisa pulang,'' ujar artis yang punya ribuan penggemar setia itu.

Terinspirasi Presiden Jokowi yang suka bagi-bagi sepeda, Via Vallen juga bikin kuis untuk anak yatim. Yang jawab benar dapat hadiah sepeda. Pertanyaan mulai pancasila hingga surat-surat pendek. Ada tujuh sepeda yang dibagikan artis bernama asli Maulidia Octavia ini.

Via layak bersyukur kepada Tuhan di usia 26 ini. Betapa tidak. Via yang awalnya merintis karir dari kampung ke kampung, ngamen sana sini, akhirnya dikenal di seluruh Indonesia. Dulu sulit sekali menembus televisi nasional. Tampil di televisi lokal pun tidak gampang.

Namun, berkat perjuangan keras, gadis yang juga korban lumpur Lapindo ini perlahan-lahan terangkat ke pentas nasional. Dengan karakter dan gaya sendiri. Tampil elegan, tidak sensual, nyaris tanpa goyangan berlebihan.
Via Vallen menjadi antitesis dari artis-artis koplo sebelumnya yang benar-benar menjual goyang erotis. Sebut saja Inul Daratista, Trio Macan, Dewi Perssik hingga Putri Vinata. ''Saya ingin selalu tampil apa adanya. Jadi diri sendiri,'' katanya.

Semoga Via Vallen bisa mengubah image dangdut koplo yang kadung rusak di mata pendekar dangdut lawas macam Rhoma Irama. Bang Haji dan kawan-kawan sudah lama kampanye antikoplo. ''Koplo itu bukan dangdut,'' kata pimpinan PAMMI seumur hidup itu.

05 October 2017

KA sudah kalahkan pesawat

Sudah lama banget saya tidak naik kereta api. Tepatnya sebelumnya Ignasius Jonan jadi dirut PT KAI. Sekitar 10 tahun. Jangankan kereta jarak jauh, kereta jarak dekat seperti Surabaya-Sidoarjo pun tak pernah.

Bukan apa-apa. Dulu saya sangat menderita ketika naik KA ekonomi dari Surabaya ke Jakarta dan sebaliknya. Luar biasa menderita. Penumpang berjubel. Dempet-dempetan. Tidur di bawah kursi. Belum lagi puluhan pedagang asongan yang bolak-balik lewat untuk jualan.

''KA sudah berubah. Sejak Jonan jadi dirut. Sudah gak parah kayak dulu,'' kata teman yang langganan sepur.

Baguslah. Saya juga baca di koran dan media online. Bahkan, dulu saya paling sering menelepon Pak Darsono, humas KAI Daop 8 Surabaya, untuk wawancara dan bahas masalah kereta api. Banyak ilmu yang saya dapat dari Pak Darsono yang sudah pensiun itu.

Tapi ya itu... saya tidak pernah naik kereta api. Pun tidak ingin. Padahal saya beberapa kali menghadiri peresmian jalur KA baru. Nonton doang!

Hingga akhirnya... saya terpaksa naik kereta api. Dari Pasar Turi. Kelas ekonomi. Dibayarin panitia Rp 49 ribu. Ikut rombongan sekitar 20 wartawan untuk lokakarya minyak dan gas di Blora, Cepu, dan Bojonegoro. Termasuk meninjau ladang minyak Banyuurip milik Exxon yang lagi berjaya di Indonesia itu.

Wow... kereta api tahun 2017 memang beda dengan zaman sengsara dulu. Sistem boarding ala pesawat. Ruang tunggu bagus. On time pula. Semua penumpang punya nomor kursi. Tidak akan lebih.

Yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah ketepatan waktu. On time schedule. Cuma molor 7 menit saja! Padahal ini KA ekonomi. Kelas paling murah.

Saya pun langsung bandingkan dengan pesawat LA yang sering saya naiki ke NTT. Kalah jauh untuk ketepatan waktunya. Di Juanda pesawat-pesawat ke Indonesia memang hobi delayed. Molornya pesawat itu bisa sampai 2 jam. Bahkan saya pernah alami molor 3 jam. Para penumpang sempat ngamuk di ruang tunggu.

Kok bisa KA ekonomi hanya molor 7 menit?

Itulah kehebatan direksi PT KAI. Gebrakan Jonan sejak awal 2000 bisa kita petik hasilnya sekarang. Kualitas layanan KA (sekali lagi, kelas ekonomi) sudah setara pesawat terbang. Jauh melebihi apa yang saya bayangkan.

Perkiraan waktu tempuh 2 jam juga nyaris persis. Cuma molor 10 menitan. Lagu lama Iwan Fals sudah tidak cocok. ''Biasanya kereta terlambat... dua jam sudah biasa.....''

Syair lagu Iwan Fals ini hanya cocok di tahun 80an hingga pertengahan 2000an. Ada baiknya Iwan Fals sesekali mencoba naik kereta api. Sebaiknya incognito alias menyamar. Untuk merasakan perubahan radikal di tubuh kereta api kita.

Pulangnya, saya dan teman-teman pakai mobil. Sopirnya tipe pengebut. Waktu tempuh 4 jam kurang 7 menit. Alias dua kali lebih lama ketimbang naik sepur.

Ayo... ayo....naik kereta api!

Puasa menonton timnas sepak bola

Semalam tim nasional bermain lawan Kamboja di Bekasi. Dua pertandingan sekaligus. Timnas U19 disusul senior. Keduanya disiarkan langsung di televisi.

Berbeda dari biasanya, kali ini saya sengaja tidak nonton. Cuma uji coba. Friendly game. Apa pun hasilnya tidak akan ada medali emas atau trofi. Buat apa menang di uji coba kalau di SEA Games atau Piala AFF tidak bisa juara?

Saya sudah lama kecewa berat dengan timnas sepak bola Indonesia. Sering kalah di laga krusial karena kesalahan yang tidak perlu. Ada pemain bikin kesalahan konyol. Kena kartu merah. Maka timnas kalah.

Betapa kecewanya saya saat menyaksikan laga Indonesia vs Malaysia di SEA Games lalu. Hasilnya? Lagi-lagi disikat Malaysia. Gol tunggal dari sundulan pemain hitam keturunan India itu. Indonesia seperti kalah kelas.

Sebelumnya juga kalah dari Malaysia. Justru di final Piala AFF. Kok bisa kalah terus dari Malaysia? Memangnya pemain Malaysia makan roti tiap hari? Kalah dari Thailand masih bisa saya terima. Sebab standar sepak bola di Thailand sejak dulu sudah bagus.

Kok iso kalah maneh... karo Malaysia!

Maka, saya pun membuat keputusan pribadi: tidak akan menonton pertandingan timnas (semua jenjang usia) sampai kesebelasan Indonesia mampu meraih juara SEA Games atau Piala AFF. Tidak perlu Piala Asia atau Asian Games lah... karena itu hil yang mustahal.

Semoga timnas bisa juara!
Atau setidaknya bisa mengalahkan Malaysia!