12 May 2007

Pelacur Surabaya Tempo Dulu


Ini gambar daripada prempuwan2 muda yang kesasar di Gang Dolly. Dus, bukan pelacur tempo doeloe melaenkan tempo sekarang.

Dalem rangka memeriahkan daripada hari jadi Kota Surabaya ke-714, kita putar ulang kaset lawas tentang kupu-kupu malem di Surabaia Tempo Doeloe. Cerita ini ditulis oleh DUKUT IMAM WIDODO, penulis dan pemerhati sejarah asal Malang yang tinggal di Surabaya, kerja cari duit di Gresik. Sekali-sekali kita nikmati lagu lawas... buat nostalgia. Pasang kuping baek-baek!


"We van zijn herinneringen kan genieten leeft tweemal," kata orang Belanda.

Artinya, siapa yang bisa merasakan kenangan tempo doeloe, maka ia serasa hidup dua kali.

Pembaca yang budiman. Kendatipun Anda dan saya tidak pernah mengalami zaman Soerabaia Tempo Doeloe, tetapi setidaknya melalui tulisan-tulisan saya, Anda dan saya bisa merasakan lagi denyut-denyut kehidupan masa lampau, sebagai cermin bagi kehidupan kita saat ini.

Nah, saya ingin bertutur tentang Pelabuhan Tanjung Perak yang dulu lebih dikenal dengan nama Pelaboehan Oedjoeng. Suatu pelabuhan yang dari dulu hingga sekarang sarat dengan denyut nadi kehidupan perekonomian dan pertahanan laut Kota Surabaya. Untuk menuju ke pelabuhan itu ada dua jalan kembar yang dipisahkan oleh Kali Mas. Yakni, Wasterkade Kalimas [sekarang Jalan Kalimas Barat] dan Oostrerkade Kalimas [kini Kalimas Timur].

Tempo doeloe di kedua jalan kembar itu banyak berdiri rumah-rumah bordil. Para matroezen [kelasi] setelah berbulan-bulan mengarungi samudera, segera melepaskan syahwatnya di tempat itu. Kedatangan mereka disambut mesra oleh para pekerja seks yang berdiri di depan pintu rumah-rumah bordil itu dengan parikan menggelitik serta begitu menjanjikan kenikmatan.

Tanjung Perak, Mas, kapale kobong
Monggo pinara, Mas, kamare kosong.


Itu parikan wajib yang mengandung arti sangat dalam. Hanya orang-orang tertentu saja yang fasih akan menangkap makna yang tersirat di dalamnya [kamar kosong]. Sungguh, jangan Anda bayangkan bahwa para penjaja seks tersebut berpakaian minim seperti yang saat ini ada di Jalan Diponegoro atau ABG yang menjajakan diri di Jalan Panglima Sudirman. Itu saru!

Tempo doeloe, para penjaja seks mengenakan pakaian sesopan-sopannya. Pakaian itu berupa kain panjang jarit dikombinasikan dengan kebaya putih yang diborir tepiannya. Mengapa harus kebaya putih? Tempo doeloe warna hijau tosca, apalagi pink, belum ada.

Mereka pun berdandan semenor-menornya. Gincunya merah menyala. Pupurnya tebal. Bagaimana dengan rambutnya? Tentu saja, kalau itu belum ada model shaggy. Jadi, rambutnya digelung rapi dan diberi cunduk menthul. Karena belum ada shampoo, maka kalau keramas pakai londho merang. Itu merang, batang padi, yang dibakar.

Agar rambutnya tampak mengkilat, cling, maka diberi cem-ceman. Itu minyak dari bunga kenanga yang diproses khusus. Parfumnya? Ah, mau tau aja... tentu saja mereka pakai eaude cologne [bacanya: de klonyo] atau minyak wangi cap srimpi. Agar ketiaknya tidak bau, maka ketiaknya digosok dengan tawas.

Para kelasi Belanda itu lebih suka wanita pribumi. Sementara para kelasi anak negeri lebih suka wanita mestizo, yaitu wanita peranakan Eropa. Tempo doeloe banyak lelaki bangsa Eropa, terutama Belanda, yang memiliki nyai. Nyai itu sebutan bagi wanita pribumi yang digundik oleh pria Eropa. Keturunannya? Walaupun statusnya tetap anak haram, mereka berwajah cakep-cakep. Mirip para aktor dan aktris di telenovela.

Dalam suatu dokumen resmi disebutkan bahwa anak-anak haram mestizo itu sengaja disingkirkan dari pergaulan anak-anak Belanda totok. Najis hukumnya jika sampai bersinggungan kulit dengan mereka. Sebab, mereka itu Belanda bukan, Jawa pun tidak. Mereka pun tidak boleh berpakaian seperti orang-orang Eropa. Jadi, mereka berpakaian seperti orang-orang pribumi lengkap dengan ikat kepala udheng-nya.

Trus, yo opo adegane si kelasi londo versus wanita pribumi atawa kelasi pribumi versus wanita mestizo nang jerone kamar?

Ah, mau tau aja...

Tanjung Perak, Mas, kapale kobong
Monggo pinara, Mas, kamare kosong.

17 comments:

  1. alowwwww.......
    aku lagi dapet tugas Bahasa Indonesia dengan topik Surabaya
    eh, iseng2 buka blog ini
    keren bgt ya topiknya...
    tp sekarang turunan pelacur sama kompeni masih ada gak ya??????
    kok gak pernah liat ????

    ReplyDelete
  2. ''Kelasi anak negeri lebih suka wanita mestizo, yaitu wanita peranakan Eropa.''
    Ah, berarti sampek skrg selera org indonesia sama saja: suka wanita indo kayak bintang film n sinetron. hmmm.. aku juga suka kok ce bule. hehehe

    ReplyDelete
  3. terima kasih atas komen teman2. salam!!!

    ReplyDelete
  4. salut sama pak dukut yg punya info surabaya jaman belanda, termasuk psk-nya.

    ReplyDelete
  5. kepikirannya mengulas tentang PSK? wow, sama sekali tidak terpikir loh...

    High appreciation juga untuk narsumnya...
    seru... jadi pengen ketemu langsung...

    ReplyDelete
  6. wawawawawawawaw
    oom hurek . . . cadasssss . . . .

    ReplyDelete
  7. brati psk tempo dulu seperti siswa mau wisuda bajunya

    ReplyDelete
  8. thx ea mz..
    jdi memberikan inspirasi..
    hhe. ;p
    cri dolly tempo dulu ssah..
    huft tp dptny ini..
    thx bgt lah..

    ReplyDelete
  9. hehehe... ini kisah masa lalu kota surabaya yg menarik dan jarang ditulis orang.

    ReplyDelete
  10. kayaknya pernah baca tulisan ini di suatu buku deh...

    ReplyDelete
  11. Cak Semanggi yth.
    Sudah jelas disebutkan di awal tulisan bahwa artikel ini ditulis Dukut Imam Widodo. Mula-mula artikel ini dimuat secara bersambung di koran Radar Surabaya, kemudian dibukukan menjadi SOERABAIA TEMPO DOELOE. Terima kasih.

    ReplyDelete
  12. asmanoch sing diceluk cak manu arek suroboyo asli , nek aku kok seneng sing meztiso ketoke ayu lan sedep koyok bumbu jangkep .

    ReplyDelete
  13. Uaaapik thenan cak ulasane.
    Omahku dewe cedak daerah kuwi lho ........

    Monggo pinarak ......

    ReplyDelete
  14. Psk pake jarik, rambut digelung, masih ada, aku tau kecele, kupikir perempuan nunggu bemo di jl diponegoro., :)

    ReplyDelete
  15. Piye ya supaya PSK Surabaya ketoane khas dan beda karo ning panggonan liya, mulai saiki di gawekna SK dikongkon kudu dandan Tempo Doeloe.????

    ReplyDelete
  16. Waaah.... ini kok pelanggan semua...

    ReplyDelete